4 Fakta Serangan Houthi yang Menewaskan 12 Orang di Bandara King Khalid di Riyadh

img-redaksi Andika Hendra Mustaqim
Minggu, 11 Oktober 2026 - 14:35 WIB
4 Fakta Serangan Houthi yang Menewaskan 12 Orang di Bandara King Khalid di Riyadh
Serangan Houthi menewaskan 12 orang di Bandara King Khalid di Riyadh, Arab Saudi. Foto/X/@clashreport
A
A
A
RIYADH - Setidaknya 12 orang tewas dan 309 orang terluka dalam serangan di bandara internasional di Riyadh, Arab Saudi.

Korban tewas mencakup empat warga negara Saudi, dua warga Bangladesh, serta masing-masing satu orang dari AS, Yordania, Palestina, Suriah, Sudan, dan Mesir, demikian dikonfirmasi oleh otoritas penerbangan sipil Saudi.

Operasional di Bandara Internasional King Khalid telah dihentikan sementara.

4 Fakta Serangan Houthi yang Menewaskan 12 Orang di Bandara King Khalid di Riyadh

1. Koalisi Saudi Akan Membalas Dendam

Melansir BBC, koalisi militer pimpinan Saudi kemudian berjanji akan merespons serangan tersebut—yang mereka sebut sebagai "kejahatan perang"—dan menuding kelompok Houthi Yaman sebagai pelakunya.

Kelompok Houthi belum memberikan komentar mengenai serangan hari Sabtu itu, namun mereka mengakui berada di balik serangan terpisah terhadap bandara yang sama pada hari Kamis, yang menewaskan tiga orang dan merusak sebuah pesawat.

Tiga orang lainnya tewas dalam serangan terpisah oleh Houthi terhadap dua bandara Saudi lainnya pada tanggal 6 dan 7 Oktober.

2. Serangan Paling Mematikan Houthi ke Saudi

Serangan hari Sabtu ini merupakan yang paling mematikan di kerajaan tersebut sejak Mei 2015.

Pertempuran baru-baru ini meningkat antara pasukan pemerintah Yaman yang didukung Saudi dan kelompok Houthi, yang didukung oleh Iran dan menguasai sebagian besar wilayah negara tersebut.

Selain serangan terhadap bandara Riyadh, sebuah proyektil juga jatuh di dekat Bandara Internasional King Fahd di Dammam, wilayah timur Arab Saudi, pada hari Sabtu, menurut keterangan koalisi pimpinan Saudi.

Dalam pernyataan hari Sabtu, otoritas penerbangan sipil Saudi menyebutkan bahwa beberapa korban luka berada dalam "kondisi kritis".

Pihak otoritas menyatakan bahwa kerusakan pada bandara sedang dalam tahap penilaian.

Seorang saksi mata yang mengaku berada di terminal domestik mengatakan kepada kantor berita bahwa ia melihat gerbang 401 terkena serangan dan menyaksikan "orang-orang terluka tepat di depan mata saya", seraya menambahkan: "Semua orang berlarian."

Lebih dari belasan ambulans terlihat bergegas menuju bandara, menurut kantor berita Reuters yang mengutip keterangan saksi mata. Juru bicara koalisi pimpinan Arab Saudi, Mayjen Turki al-Maliki, kemudian menyatakan bahwa serangan terhadap salah satu terminal penumpang tersebut mengakibatkan jatuhnya korban jiwa dan luka-luka di kalangan penumpang sipil serta staf bandara.

Ia menyebut serangan itu sebagai "kejahatan perang nyata".

3. AS Akan Bergabung dengan Koalisi Saudi Melawan Houthi

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengecam keras serangan terbaru terhadap Arab Saudi dan mengonfirmasi bahwa seorang warga negara Amerika tewas dalam serangan tersebut.

Saat ditanya oleh wartawan apakah AS berencana bergabung dengan Arab Saudi untuk melancarkan serangan terhadap kelompok Houthi, Presiden Donald Trump berkata: "Kami mungkin akan melakukannya. Kami akan mempertimbangkannya. Kami baru saja mengetahui tentang serangan terbaru ini, jadi kami akan mengambil keputusan. Kami bertindak sangat cepat."

Sekretaris Jenderal PBB António Guterres menyatakan dirinya "sangat terkejut" oleh serangan-serangan tersebut, yang disebutnya sebagai "pelanggaran hukum internasional" yang "harus segera dihentikan".

Serangan-serangan itu juga dikecam oleh Mesir, Palestina, dan Qatar.

Kedutaan besar negara-negara Barat di Arab Saudi memperingatkan warga negara mereka untuk menjauhi bandara Riyadh. Kementerian Luar Negeri Inggris mengimbau warga negara Inggris agar menghindari kawasan tersebut "sampai kondisi bandara dinyatakan aman".

Sejumlah maskapai penerbangan Teluk menyatakan telah membatalkan penerbangan dari dan menuju bandara tersebut; Kuwait Airways secara khusus menyebut alasan "situasi keamanan" di sana.

Data dari layanan pelacak penerbangan Flightradar menunjukkan bahwa seluruh penerbangan menuju Riyadh telah dialihkan atau dibatalkan.

4. Serangan Balasan Houthi karena Keterlibatan Saudi

Kelompok Houthi menyatakan bahwa mereka menargetkan Arab Saudi sebagai respons atas dukungan negara tersebut terhadap pasukan pemerintah dalam perang saudara di Yaman.

Konflik semakin memburuk setelah kelompok Houthi merebut wilayah pesisir Laut Merah yang strategis melalui serangan kilat.

Wilayah yang direbut itu mencakup pelabuhan Mokha di Selat Bab al-Mandab, titik tersempit di Laut Merah yang juga merupakan jalur vital bagi pelayaran global. Pasukan pro-pemerintah Yaman kemudian menyatakan telah "mengamankan" selat yang terletak di ujung selatan Laut Merah tersebut.

Koalisi pimpinan Arab Saudi dibentuk pada tahun 2015 setelah negara-negara Arab bergabung untuk mencegah kelompok Houthi merebut kekuasaan di Yaman dari pemerintahan yang diakui secara internasional. Gencatan senjata sementara dicapai pada tahun 2022 setelah serangan udara dan pertempuran darat selama bertahun-tahun menewaskan ratusan ribu orang serta memicu salah satu krisis kemanusiaan terburuk di dunia.

Namun, gencatan senjata informal tersebut mulai goyah pada bulan Juli.

Kelompok Houthi mengumumkan "embargo maritim" terhadap Arab Saudi dan mulai melancarkan serangan rudal serta pesawat nirawak (drone) yang menyasar bandara, fasilitas minyak, dan kapal tanker Arab Saudi di Laut Merah.

Mereka menyatakan bahwa tindakan tersebut merupakan balasan atas blokade Arab Saudi yang telah berlangsung selama bertahun-tahun serta serangan udara terhadap bandara di Sanaa, ibu kota Yaman yang dikuasai oleh Houthi.
(ahm)
See original source
link link link link
Berita Terkait
Politisi Israel: Membunuh Ayatollah Ali Khamenei Adalah Kesalahan
International
Minggu, 11 Oktober 2026 - 10:58 WIB