NATO Bersiap Latihan Nuklir usai Putin Umbar Ancaman Mengerikan

img-redaksi Muhaimin
Minggu, 11 Oktober 2026 - 09:40 WIB
NATO Bersiap Latihan Nuklir usai Putin Umbar Ancaman Mengerikan
NATO akan gelar latihan nuklir Steadfast Noon setelah Presiden Rusia Vladimir Putin ancam akan gunakan senjata nuklir. Foto/NATO
A
A
A
BRUSSELS - NATO akan melaksanakan latihan nuklir tahunannya di Eropa mulai Selasa nanti, tak lama setelah Presiden Rusia Vladimir Putin mengisyaratkan penggunaan senjata nuklir untuk mempertahankan wilayah eksklave Kaliningrad di Laut Baltik dari aliansi tersebut.

Latihan nuklir bernama Steadfast Noon ini diadakan setiap tahun, dan pada Kamis lalu pihak aliansi menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan agenda yang sudah lama direncanakan dan bersifat rutin.

Dalam latihan serupa tahun 2025, sekitar 2.000 personel terlibat bersama dengan 70 pesawat dari lebih dari selusin negara, termasuk pesawat yang memiliki sertifikasi untuk membawa bom nuklir.

Latihan tahun ini akan melibatkan jumlah personel dan pesawat yang serupa, menurut juru bicara militer senior NATO Kolonel Martin O'Donnell. Mereka akan melatih prosedur pengerahan pesawat yang mampu meluncurkan bom nuklir, pengiriman personel dan peralatan ke pangkalan-pangkalan tertentu, serta memastikan kesiapan pesawat pengisi bahan bakar dan tim keamanan dalam mendukung operasi nuklir.

"Latihan ini sangat bisa diprediksi," kata O'Donnell kepada Newsweek, Sabtu (10/10/2026).

Kepala NATO Mark Rutte menyatakan bahwa latihan yang dimulai di Italia pada hari Selasa nanti bertujuan untuk menjaga perdamaian, mencegah paksaan, dan menangkal agresi. Sebanyak 17 negara akan berpartisipasi, dan tidak ada senjata nuklir sungguhan yang akan ditembakkan.

NATO menyatakan bahwa latihan Steadfast Noon tahun ini tidak terkait dengan peristiwa dunia saat ini dan tidak ditujukan terhadap negara mana pun.

"Ini merupakan pesan yang jelas bagi negara-negara seperti Rusia bahwa tidak perlu ada kekhawatiran," ujar Nassima Barrows, wakil direktur kebijakan nuklir NATO, sebagaimana dilaporkan oleh Politico.

Namun, latihan ini berlangsung hanya beberapa hari setelah Presiden Rusia Vladimir Putin mengancam akan menggunakan persenjataan nuklir Rusia yang masif untuk melawan NATO jika wilayah eksklave Kaliningrad diserang.

Negara-negara anggota NATO di Eropa juga telah memperingatkan bahwa Rusia sedang meningkatkan aksi sabotase, serangan siber, dan kampanye disinformasi di tengah kekhawatiran bahwa Kremlin sedang menguji bagaimana aliansi tersebut akan merespons serangan Rusia.

Kedutaan Besar Rusia di London menyatakan pihaknya menolak dengan tegas tuduhan bahwa Moskow sedang melancarkan apa yang disebut sebagai perang hibrida terhadap NATO.

NATO mengecam retorika nuklir yang tidak bertanggung jawab dan menegaskan bahwa aliansi tersebut sama sekali tidak menimbulkan risiko bagi Rusia, termasuk saat menggelar latihan militer di Laut Baltik.

Kaliningrad merupakan pangkalan bagi armada Angkatan Laut utama Rusia dan peluncur rudal berkecepatan tinggi, namun wilayah ini dikelilingi oleh negara-negara anggota NATO serta terjepit di antara Polandia dan Lithuania.

Bulan lalu, saluran penyiaran Inggris, Sky News, menayangkan sebuah miniseri yang menggambarkan skenario hipotetis serangan Rusia terhadap Inggris dan bagaimana negara itu mungkin merespons—termasuk dengan mengizinkan operasi militer terhadap wilayah Kaliningrad di kawasan Baltik. Tayangan ini memicu perhatian besar dari media Inggris.

"Mereka yang mengusulkan rencana untuk memblokade atau menyerang Kaliningrad sebaiknya tidak memiliki ilusi mengenai konsekuensinya," demikian pernyataan Kedutaan Besar Rusia di London pada saat itu.

Stok senjata nuklir sempat dipangkas secara besar-besaran saat Perang Dingin berakhir pada akhir abad ke-20, namun para ahli menyebutkan bahwa jumlah hulu ledak yang secara realistis dapat digunakan kini kembali meningkat. Beberapa negara NATO yang berbatasan langsung dengan Rusia juga telah menyatakan minat awal untuk menempatkan senjata nuklir AS di wilayah mereka.

Amerika Serikat, Inggris, dan Prancis adalah tiga negara anggota NATO yang memiliki senjata nuklir. Sembilan negara di seluruh dunia diyakini memiliki hulu ledak nuklir.

Baik Inggris maupun Prancis menyatakan bahwa kemampuan penangkal nuklir mereka bersifat independen dan berdaulat. Sejumlah negara NATO lainnya, dalam situasi yang berbeda, menempatkan senjata nuklir Amerika di wilayah mereka, meskipun kendali penuh atas senjata tersebut tetap berada di tangan Washington.

Awal pekan ini, Prancis menyatakan telah melakukan uji coba peluncuran rudal balistik berkemampuan nuklir yang telah ditingkatkan spesifikasinya, beberapa bulan setelah berkomitmen untuk memperluas program senjata nuklirnya untuk pertama kalinya dalam beberapa dekade. Presiden Prancis Emmanuel Macron juga mengungkapkan rencana tahun lalu untuk mendirikan pangkalan udara nuklir tambahan di negara tersebut.

Rusia memiliki cadangan senjata nuklir terbesar di dunia, disusul oleh Amerika Serikat. Bersama-sama, kedua negara menguasai lebih dari 86 persen dari total senjata nuklir dunia.
(mas)
See original source
link link link link
Berita Terkait
NATO Bersiap Latihan Nuklir usai Putin Umbar Ancaman Mengerikan
International
Minggu, 11 Oktober 2026 - 09:40 WIB