Presiden Donald Trump isyaratkan Amerika Serikat akan gabung dengan Arab Saudi dalam membombardir kelompok Houthi Yaman. Foto/The White House
WASHINGTON - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengisyaratkan bahwa Washington mungkin akan bergabung dengan kampanye militer Arab Saudi melawan
kelompok Houthi di Yaman. Isyarat ini disampaikan setelah serangan rudal kelompok milisi pro-Iran itu menghantam Bandara Internasional King Khalid di Riyadh yang menewaskan 12 orang, termasuk warga AS.
Trump sebelumnya enggan untuk melibatkan AS dalam konflik yang terus memanas tersebut.
Saat berbicara kepada wartawan di Gedung Putih pada hari Sabtu, Trump ditanya apakah pasukan Amerika dapat bergabung dalam serangan Saudi terhadap kelompok Houthi Yaman—yang juga dikenal sebagai Ansar Allah—menyusul serangan mematikan terbaru di Bandara King Khalid.
"Kami mungkin saja melakukannya. Kami akan mempertimbangkannya," jawab Trump, seperti dikutip dari
Russia Today, Minggu (11/10/2026). "Kami baru saja mengetahui tentang serangan terbaru itu. Jadi, kami akan mengambil keputusan. Kami bertindak sangat cepat."
Kelompok Houthi telah mengaku bertanggung jawab atas serangan hari Sabtu di Bandara King Khalid. Dalam wawancara dengan
Russia Today, pejabat senior Ansar Allah, Mohammed al-Bukhaiti, mengatakan bahwa serangan-serangan tersebut bertujuan memaksa Riyadh untuk menerima "perdamaian yang komprehensif dan permanen" serta mengakhiri perang dan blokade timbal balik.
Eskalasi pertempuran kembali terjadi di saat pasukan Yaman yang didukung Saudi melancarkan serangan besar-besaran untuk merebut kembali wilayah yang dikuasai Houthi, termasuk area-area strategis di dekat Selat Bab el-Mandeb. Koalisi pimpinan Arab Saudi pada hari Jumat menyatakan telah meluncurkan "operasi berskala besar" terhadap kelompok tersebut dan menghancurkan 136 target militer.
Pernyataan terbaru Trump menandakan potensi perubahan sikap Washington. Pada bulan September, Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman berulang kali meminta bantuan militer AS untuk menghadapi kelompok Houthi, namun Trump pada akhirnya memutuskan untuk tidak memberikan izin serangan—meskipun persiapan operasi telah dilakukan.
Washington dilaporkan terus memberikan dukungan intelijen dan dukungan non-tempur lainnya kepada Riyadh, namun serangan langsung AS terhadap Houthi akan membuka front baru dalam konflik regional tersebut.
Pada bulan Maret 2025, Trump memerintahkan serangan udara dan laut AS selama beberapa minggu terhadap posisi-posisi Houthi, dengan menyasar peluncur rudal, instalasi radar, dan infrastruktur militer lainnya dalam upaya menghentikan serangan terhadap kapal-kapal di Laut Merah. Namun, operasi tersebut berakhir tiba-tiba pada bulan Mei menyusul gencatan senjata yang dimediasi oleh Oman, setelah pihak Houthi setuju untuk berhenti menargetkan kapal-kapal Amerika.
Pada bulan September, Trump juga mengeklaim bahwa pihak Houthi telah menghubungi Washington untuk menghindari konfrontasi lebih lanjut dengan pasukan AS, seraya mengatakan; "Kelompok tersebut lebih memilih agar kita tidak terlibat." Pihak Ansar Allah membantah telah melakukan kontak semacam itu.
Eskalasi terbaru ini terjadi di tengah konflik regional yang lebih luas yang dipicu oleh perang AS-Israel melawan Iran pada bulan Februari. Kelompok Houthi telah memperluas kendali mereka di sepanjang pesisir Laut Merah Yaman, yang mengancam jalur pelayaran vital tempat Arab Saudi semakin bergantung untuk ekspor minyak di tengah gangguan lalu lintas melalui Selat Hormuz.
(mas)