Terminal High Altitude Area Defense (THAAD), salah satu sistem pertahanan tercanggih AS yang ditempatkan di Kerajaan Arab Saudi. Foto/SPA
RIYADH - Dalam sepekan terakhir, Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, Ibu Kota Kerajaan Arab Saudi, sudah tiga kali dihantam rudal kelompok
Houthi Yaman. Total sudah 16 orang tewas dan 317 lainnya terluka, termasuk serangan terbaru pada hari Sabtu yang menewaskan 12 orang.
Amerika Serikat (AS), sebagai sekutu Arab Saudi, telah menjanjikan perlindungan dengan menempatkan dua sistem pertahanan tercanggihnya—sistem pertahanan Patriot dan sistem pertahanan Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) di kerajaan. Faktanya, dua sistem pertahanan itu tidak merespons serangan mematikan rudal Houthi yang sudah berulang kali. Ada apa dengan kedua sistem tersebut?
Bandara King Khalid sudah jadi target serangan Houthi sejak September lalu. Pada 18 September, koalisi pimpinan Arab Saudi menyatakan telah mencegat dan menghancurkan rudal balistik yang diduga ditembakkan Houthi menuju bandara tersebut.
Kemudian, pada 19 September, ledakan terdengar di dekat Bandara King Khalid dan asap hitam terlihat membubung dari area penyimpanan bahan bakar. Hubungan langsung insiden ini dengan rudal Houthi belum dapat dipastikan dan tak ada korban dalam insiden ini.
Namun, serangan mematikan mulai terjadi pada Oktober. Pada 7 Oktober, serangan terhadap Bandara King Khalid menewaskan seorang warga Sudan dan menyebabkan 8 orang lainnya terluka.
Pada 8 Oktober, Houthi mengeklaim meluncurkan rudal balistik ke Bandara King Khalid, menghancurkan sebuah pesawat Saudia. Serangan ini menewaskan tiga orang, termasuk seorang pilot Saudia dan dua warga Saudi.
Lalu, pada Sabtu (10/10/2026), serangan rudal Houthi menghantam kompleks terminal Bandara King Khalid. Otoritas penerbangan sipil Arab Saudi melaporkan 12 tewas dan 309 lainnya terluka.
Mohammed al-Bukhaiti, seorang pejabat senior Houthi, mengatakan milisi tersebut bertanggung jawab atas serangan di Bandara King Khalid pada Sabtu. Dia menyebut serangan itu sebagai balasan atas serangan Arab Saudi, termasuk terhadap infrastruktur sipil di Yaman.
"Houthi melancarkan serangan tersebut agar dunia memahami bahwa bandara, pelabuhan laut, gedung pernikahan dan pemakaman, rumah sakit, serta pasar di Yaman merupakan fasilitas sipil yang tidak boleh menjadi sasaran atau dirusak—dan bahwa aturan yang sama yang berlaku bagi fasilitas-fasilitas tersebut di Yaman juga harus berlaku bagi fasilitas sejenis di mana pun," katanya, seperti dikutip dari
The New York Times, Minggu (11/10/2026).
Mengapa Sistem Pertahanan Patriot dan THAAD Tak Berkutik?
Rentetan serangan rudal Houthi di Bandara King Khalid, terutama yang paling mematikan pada Sabtu, menimbulkan pertanyaan besar tentang efektivitas pertahanan udara kerajaan. Kerajaan itu memiliki sistem Patriot dan THAAD buatan AS.
Sistem pertahanan MIM-104 Patriot dikembangkan untuk menghadapi berbagai ancaman udara, termasuk pesawat, rudal jelajah, drone, dan rudal balistik taktis. Kemampuannya bergantung pada konfigurasi sistem, jenis rudal pencegat, karakteristik sasaran, serta dukungan radar dan jaringan komando.
Menurut Raytheon, produsen yang terlibat dalam pengembangan Patriot, sistem tersebut mengintegrasikan radar, teknologi komando dan kendali, serta berbagai jenis rudal pencegat untuk menghadapi ancaman udara.
Arab Saudi telah lama mengoperasikan Patriot untuk melindungi wilayahnya dari ancaman rudal, termasuk serangan yang diluncurkan dari Yaman.
Salah satu varian pentingnya adalah PAC-3 Missile Segment Enhancement (PAC-3 MSE), yang dirancang untuk meningkatkan kemampuan menghadapi ancaman rudal balistik.
Pada 30 Januari 2026, Defense Security Cooperation Agency (DSCA) Amerika Serikat mengumumkan persetujuan penjualan potensial 730 rudal PAC-3 MSE kepada Arab Saudi dengan estimasi nilai USD9 miliar. Paket tersebut juga mencakup dukungan teknis, suku cadang, dan perlengkapan terkait.
Angka tersebut menunjukkan skala kebutuhan pertahanan rudal Arab Saudi. Namun, ada perbedaan penting antara persetujuan penjualan dan pengiriman operasional, di mana pengumuman itu tidak membuktikan bahwa seluruh 730 rudal telah diterima atau tersedia untuk digunakan pada Oktober 2026.
Begitu pula, informasi publik tidak memastikan baterai Patriot mana yang sedang bertugas melindungi Bandara King Khalid ketika serangan terjadi.
Dengan demikian, keberadaan Patriot dalam inventaris pertahanan Arab Saudi tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa sistem tersebut gagal dalam insiden 10 Oktober. Namun, tetap saja sistem itu tidak bekerja atau kemungkinan tidak diaktifkan.
Selain Patriot, Arab Saudi juga mengembangkan kemampuan pertahanan melalui sistem THAAD. Sistem buatan Amerika Serikat ini dirancang untuk mencegat rudal balistik pada fase terminal penerbangannya, baik di dalam maupun di luar atmosfer. THAAD menggunakan metode "hit-to-kill", yakni menghancurkan sasaran melalui tumbukan langsung dengan energi kinetik. Sistem ini dilengkapi radar, peluncur, rudal pencegat, serta perangkat komando dan kendali.
Pada 3 Juli 2025, Saudi Press Agency (SPA) melaporkan bahwa Pasukan Pertahanan Udara Kerajaan Arab Saudi secara resmi meresmikan unit THAAD pertamanya setelah menyelesaikan pengujian, evaluasi, dan pelatihan personel.
Kehadiran THAAD memperkuat kemampuan Arab Saudi menghadapi ancaman rudal balistik. Namun, sistem ini bukan perisai universal untuk setiap jenis serangan.
THAAD tidak dirancang untuk menjadi satu-satunya sistem yang menangani seluruh ancaman udara, terutama drone kecil dan berbagai ancaman yang terbang pada ketinggian rendah. Perlindungan menyeluruh membutuhkan kombinasi sistem dengan kemampuan berbeda.
Lebih penting lagi, tidak ada informasi publik terverifikasi yang memastikan baterai THAAD ditempatkan untuk melindungi Bandara King Khalid atau terlibat dalam upaya menghadapi serangan pada 10 Oktober.
Apakah Sistem Patriot dan THAAD di Arab Saudi Kehabisan Rudal Pencegat?
Persediaan amunisi merupakan salah satu aspek penting yang perlu diperiksa dalam menilai kemampuan pertahanan udara Arab Saudi.
Sistem pertahanan rudal membutuhkan amunisi untuk setiap upaya pencegatan. Ketika serangan berlangsung berulang kali, stok yang tersedia dapat berkurang dan harus diganti melalui produksi atau pengadaan baru.
Namun, jumlah rudal yang dimiliki Arab Saudi, tingkat penggunaan amunisi, dan stok yang tersedia di sekitar Riyadh pada 10 Oktober belum terungkap secara memadai dalam sumber publik yang tersedia.
Persetujuan penjualan 730 rudal PAC-3 MSE pada Januari 2026 menunjukkan adanya pengadaan yang direncanakan untuk meningkatkan kemampuan pertahanan. Akan tetapi, angka itu tidak dapat digunakan untuk menghitung persediaan operasional saat serangan terjadi.
Dengan demikian, kekurangan amunisi merupakan salah satu faktor yang patut diperiksa, tetapi belum dapat dinyatakan sebagai penyebab langsung kegagalan dalam melawan serangan rudal Houthi terhadap Bandara King Khalid.
(mas)