Rudal Houthi Serang Bandara Riyadh Arab Saudi, 12 Orang Tewas, 309 Terluka

img-redaksi Muhaimin
Minggu, 11 Oktober 2026 - 06:24 WIB
Rudal Houthi Serang Bandara Riyadh Arab Saudi, 12 Orang Tewas, 309 Terluka
Rudal yang ditembakkan kelompok Houthi Yaman kembali menghantam Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, Kerajaan Arab Saudi. Kali ini, 12 orang tewas dan 309 lainnya terluka. Foto/Middle East Eye
A
A
A
RIYADH - Kelompok milisi Houthi Yaman yang didukung Iran telah melancarkan serangan rudal terhadap Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, Ibu Kota Kerajaan Arab Saudi, pada hari Sabtu. Pejabat Saudi mengatakan sedikitnya 12 orang tewas dan lebih dari 300 lainnya.

Seorang pejabat senior Houthi mengakui bahwa milisi kelompok tersebut bertanggung jawab atas serangan itu. Insiden ini menjadi serangan paling mematikan di negara Arab kawasan Teluk sejak perang Amerika Serikat(AS)-Israel melawan Iran dimulai pada Februari.

Jumlah korban terbaru diumumkan pada Minggu (11/10/2026) pagi oleh otoritas penerbangan sipil Arab Saudi. Mereka mengatakan empat warga negara Arab Saudi dan seorang warga negara Amerika Serikat (AS) termasuk di antara 12 korban tewas. Sebelumnya, laporan dari pihak Saudi menyebut dua orang tewas, yakni seorang pramugari asal Mesir dan seorang warga asal Palestina.

Otoritas tersebut menambahkan bahwa dari 309 orang yang terluka, beberapa di antaranya berada dalam kondisi kritis.

Sebelumnya, badan penerbangan Arab Saudi mengumumkan penghentian sementara operasional Bandara Internasional King Khalid.

Serangkaian serangan Houthi yang berulang kali dan mematikan terhadap bandara tersebut sepanjang pekan ini menghantam langsung ambisi Putra Mahkota Mohammed bin Salman untuk menjadikan Riyadh sebagai pusat perjalanan dan bisnis global. Serangan itu juga mengancam mengganggu sejumlah acara internasional besar yang dijadwalkan berlangsung dalam beberapa pekan mendatang.

Di seberang perbatasan, pesawat-pesawat tempur Arab Saudi melancarkan kampanye pengeboman mematikan terhadap Houthi di Yaman. Kelompok tersebut mengatakan negaranya telah menjadi sasaran ratusan serangan udara dalam beberapa pekan terakhir.

Sejak 3 September, serangan udara telah menewaskan 91 orang di Yaman, sebagian besar perempuan dan anak-anak, menurut Anees al-Asbahi, juru bicara kementerian kesehatan yang berafiliasi dengan pemerintahan Houthi.

Mohammed al-Bukhaiti, seorang pejabat senior Houthi, mengatakan milisi tersebut bertanggung jawab atas serangan di Riyadh pada Sabtu. Dia menyebut serangan itu sebagai balasan atas serangan Arab Saudi, termasuk terhadap infrastruktur sipil di Yaman.

"Houthi melancarkan serangan tersebut agar dunia memahami bahwa bandara, pelabuhan laut, gedung pernikahan dan pemakaman, rumah sakit, serta pasar di Yaman merupakan fasilitas sipil yang tidak boleh menjadi sasaran atau dirusak—dan bahwa aturan yang sama yang berlaku bagi fasilitas-fasilitas tersebut di Yaman juga harus berlaku bagi fasilitas sejenis di mana pun," katanya.

Pejabat Arab Saudi belum segera menanggapi pertanyaan mengenai detail serangan tersebut. Namun, seorang reporter The New York Times melihat sedikitnya enam ambulans menuju bandara, sementara polisi telah menutup akses masuk ke lokasi.

Kedutaan Besar AS di Riyadh bersama sejumlah kedutaan negara Barat lainnya mendesak warga negara mereka untuk menghindari kawasan tersebut dan memperingatkan adanya gangguan perjalanan.

Berbicara di Gedung Putih, Presiden AS Donald Trump mengatakan kepada wartawan, "Kami baru saja mengetahui serangan terbaru itu."

Dia mengatakan AS akan mengambil keputusan mengenai kemungkinan ikut campur dalam konflik tersebut, tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut.

Trump sebelumnya melancarkan kampanye pengeboman terhadap Houthi pada tahun lalu. Saat itu, dia menyatakan kemenangan dapat diraih dengan cepat, setelah AS menghabiskan persenjataan dan amunisi dengan laju sekitar USD1 miliar hanya dalam bulan pertama.

Menurut otoritas Arab Saudi, Houthi juga melancarkan serangan terhadap bandara di Riyadh dan Abha, di wilayah selatan kerajaan, pada awal pekan ini. Serangan tersebut menewaskan dan melukai sejumlah orang.

Mayor Jenderal Turki al-Maliki, juru bicara koalisi militer pimpinan Arab Saudi di Yaman, mengatakan pada Minggu pagi, "Sebuah proyektil jatuh di kawasan Bandara Internasional King Fahd, di Arab Saudi bagian timur." Dia tidak memberikan penjelasan lebih lanjut.

Arab Saudi sebelumnya memimpin kampanye pengeboman terhadap Houthi pada 2015 yang berakhir dengan kegagalan besar, setelah milisi tersebut merebut ibu kota Yaman, Sanaa, dan mengusir pemerintah Yaman dari kekuasaan.

Selama perang brutal yang menyusul, ratusan ribu orang meninggal akibat kekerasan, kelaparan, dan penyakit. Namun, Houthi berhasil bertahan dan memperkuat kekuasaan mereka di wilayah utara Yaman.

Gencatan senjata pada 2022 membawa perdamaian yang rapuh ke negara tersebut, hingga AS dan Israel menyerang Iran pada Februari, yang kemudian memicu perang regional.

Ketegangan antara Arab Saudi dan Houthi kembali muncul pada Juli, setelah Houthi menuduh kerajaan tersebut mengebom bandara di Sanaa.

Pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi mengaku bertanggung jawab atas pengeboman tersebut. Pemerintah mengatakan tindakan itu dilakukan untuk mencegah sebuah pesawat Iran yang tidak mendapat izin mendarat di bandara tersebut.

Houthi sejak lama memprotes pembatasan wilayah udara mereka yang diberlakukan Arab Saudi dan menyebutnya sebagai blokade.

Kelompok itu kemudian mengumumkan niat menerapkan kebijakan "blokade dibalas blokade" dan memberlakukan embargo terhadap pelayaran Arab Saudi di Laut Merah.

Laut Merah menjadi jalur alternatif penting bagi ekspor minyak Arab Saudi setelah perang Iran mengganggu pengiriman melalui Selat Hormuz, jalur perairan yang terletak di dekat Iran.

Perang internal Yaman kemudian kembali berkobar, dengan bentrokan sengit antara Houthi dan pasukan yang didukung Arab Saudi serta bersekutu dengan pemerintah Yaman.

Bulan lalu, Houthi merebut seluruh garis pantai Yaman di Laut Merah melalui serangan kilat. Keberhasilan itu memberikan kelompok tersebut kendali lebih besar atas Selat Bab al-Mandab, jalur sempit strategis yang menjadi titik penting perdagangan global.

Akhirnya, perang terbuka kembali pecah pada akhir pekan lalu. Pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi mengumumkan kampanye militer baru terhadap Houthi, dengan berjanji mengusir kelompok tersebut dari seluruh wilayah yang mereka rebut selama 12 tahun terakhir.

Arab Saudi pun memulai kembali kampanye pengeboman terhadap milisi itu.

Keputusan tersebut menyeret kerajaan itu lebih dalam ke dalam dampak regional perang AS-Israel melawan Iran, negara yang menjadi pendukung utama Houthi.

Kini, Pangeran Mohammed menghadapi tugas sulit untuk menghentikan serangan Houthi sekaligus menghindari perang berkepanjangan lainnya yang dapat menggagalkan rencana ekonominya.

Para analis mengatakan penyelesaian politik konflik tersebut semakin sulit dicapai karena tuntutan Houthi terus meningkat.

Para pejabat Houthi, yang telah terbiasa dengan peperangan selama satu dekade dan memerintah wilayah pedesaan dengan sebagian besar infrastrukturnya telah hancur akibat pertempuran, tampaknya memperhitungkan bahwa mereka dapat menimbulkan kerugian lebih besar bagi Arab Saudi dibandingkan kerugian yang dapat ditimbulkan kerajaan itu terhadap mereka.

Dalam beberapa pekan mendatang, Riyadh diperkirakan akan menyambut pengunjung dari seluruh dunia untuk menghadiri sejumlah acara internasional besar. Rangkaian acara itu dimulai pada Minggu dengan Kongres Energi W.P.C., sebuah pertemuan internasional yang dihadiri para pejabat dan eksekutif sektor energi.

Dalam email kepada para peserta pada Jumat malam, penyelenggara mengatakan acara tersebut tetap berlangsung sesuai jadwal. Mereka juga menawarkan pilihan perjalanan alternatif, termasuk penerbangan terkoordinasi dengan Saudia, maskapai penerbangan nasional Arab Saudi.

Berdasarkan data pelacakan penerbangan, sejumlah penerbangan Saudia termasuk di antara penerbangan yang dialihkan pada Sabtu.

Pada akhir bulan ini, Riyadh juga dijadwalkan menjadi tuan rumah Future Investment Initiative, konferensi investasi tahunan Pangeran Mohammed yang biasanya dihadiri para pemimpin dunia, miliarder, dan eksekutif perusahaan terkemuka global. Hingga kini, penyelenggara belum mengumumkan perubahan apa pun terhadap jadwal acara tersebut.
(mas)
See original source
link link link link
Berita Terkait
Rudal Houthi Serang Bandara Riyadh Arab Saudi, 12 Orang Tewas, 309 Terluka
International
Minggu, 11 Oktober 2026 - 06:24 WIB
Bandara Riyadh Kembali Diserang Rudal, 2 Orang Tewas, Pelaku Diduga Houthi
International
Minggu, 11 Oktober 2026 - 05:20 WIB
5 Alasan Navi Pillay Jadi Simbol Perlawanan terhadap AS dan Israel
International
Minggu, 11 Oktober 2026 - 03:30 WIB
Mungkinkan Perang Yaman Dihentikan dengan Dialog?
International
Minggu, 11 Oktober 2026 - 02:20 WIB
Siapa Dov Lando? Rabi Yahudi yang Klaim Bangsa Israel Akan Mengalami Bencana
International
Minggu, 11 Oktober 2026 - 01:10 WIB