Meski Teheran bersiap hadapi invasi abru AS, Presiden Rusia Vladimir Putin klaim Iran ingin akhiri perang. Foto/X
TEHERAN - Meskipun ada pernyataan Donald Trump bahwa ia tidak akan menyerang Iran sebelum pemilihan paruh waktu bulan depan, Teheran sedang bersiap menghadapi potensi konfrontasi baru dan menguji sistem pertahanan udara baru. Militer Iran bersiap menghadapi tekanan berkelanjutan selama dua tahun ke depan dan menganggap setiap kesepakatan hanya bersifat sementara, demikian disampaikan pemimpin redaksi surat kabar Iran Al-Wefaq, Mokhtar Haddad, kepada Al Jazeera.
"Angkatan bersenjata Iran sudah siap. Ketika kita melihat pengujian sistem pertahanan udara baru di Teheran dan kota-kota Iran lainnya hari ini, serta latihan militer yang sedang berlangsung, menjadi jelas bahwa pihak Iran sebenarnya tidak mendasarkan perhitungan mereka pada pernyataan presiden AS," kata Mokhtar Haddad kepada Al Jazeera.
Haddad mengatakan ada ketidakpercayaan di Iran terhadap apa yang dikatakan Trump, dan bahwa pemerintah serta militer tidak mengandalkan apa yang ia sebut sebagai "retorika terkait pemilu".
"Mereka yakin presiden AS bisa membatalkan langkah apa pun yang telah ia ambil kapan saja. Ia memiliki rekam jejak dalam hal ini, menunjukkan tidak adanya keraguan untuk menggagalkan negosiasi bahkan ketika negosiasi tersebut berada pada titik paling positif," ujarnya.
Haddad menambahkan bahwa Iran memperkirakan konflik akan terus berlanjut selama dua tahun ke depan, dan bahkan jika kesepakatan tercapai, hasilnya kemungkinan besar hanya bersifat sementara mengingat perilaku presiden AS tersebut.
"Oleh karena itu, Iran bersiap menghadapi konflik berkepanjangan dan memperkirakan akan menghadapi kesulitan berkelanjutan dengan presiden AS saat ini selama dua tahun ke depan," katanya.
"Iran bersiap menghadapi babak baru konflik dalam jangka pendek, sembari bersiap menghadapi konfrontasi dan tekanan berkelanjutan dalam jangka panjang."
Sementara itu, Pejabat senior Iran lainnya mengkritik pernyataan yang disampaikan Menlu AS Marco Rubio saat berkunjung ke Athena, di mana pejabat AS tersebut menarik perbandingan antara konflik Yunani-Persia kuno dan ketegangan modern antara Teheran dan Washington. Dalam sebuah unggahan di X, Ali Akbar Velayati, penasihat senior Pemimpin Tertinggi Iran, mengatakan: "Ada kontradiksi mencolok dalam pidato Rubio baru-baru ini: sikap teguh 'hingga titik darah penghabisan' dipuji dalam konteks Yunani kuno, namun keteguhan bangsa Iran yang besar justru diremehkan dengan sebutan 'pemuja kematian'.
"Tuan Rubio, masalah Anda bukan dengan Revolusi Islam; masalah Anda adalah dengan peradaban Iran yang kuat dan mandiri."
Velayati menambahkan bahwa memuji sikap perlawanan ketika hal itu dilakukan oleh "pihak sendiri", namun meremehkannya ketika dilakukan oleh "pihak lain", bukanlah cerminan peradaban, melainkan ketidakjujuran.
Velayati juga menyatakan bahwa pihak-pihak yang menyebabkan bencana di Hiroshima, Vietnam, Irak, dan Afghanistan tidak berhak menggurui orang lain soal moralitas.
Sementara itu, Presiden Rusia Vladimir Putin telah menyampaikan syarat-syarat Iran untuk mengakhiri perang kepada Presiden AS Donald Trump, menurut keterangan Kremlin.
"Dalam koordinasi dengan presiden Iran, Putin menyampaikan kepada Trump pandangan pihak Iran mengenai kemungkinan penyelesaian konflik tersebut," ujar juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, sebagaimana dikutip oleh media Rusia.
Pada hari Jumat, Trump mengumumkan bahwa ia telah mencapai kesepakatan dengan Putin yang mengizinkan Rusia mengekspor lebih dari satu juta ton bahan bakar diesel dalam beberapa bulan mendatang, meskipun ada sanksi dari AS.
Presiden AS tersebut menyatakan bahwa ia membuat kesepakatan itu sebagai upaya untuk menurunkan harga bahan bakar global, yang telah melonjak tajam akibat perang AS-Israel melawan Iran.
(ahm)