Siapa Nidal Hasan? Psikater Militer AS yang Akan Dieksekusi Mati oleh Regu Tembak dan Disiarkan Langsung

img-redaksi Andika Hendra Mustaqim
Minggu, 11 Oktober 2026 - 04:40 WIB
Siapa Nidal Hasan? Psikater Militer AS yang Akan Dieksekusi Mati oleh Regu Tembak dan Disiarkan Langsung
Nidal Hasan akan diekusi mati dan prosesnya disiarkan langsung. Foto/X/@FearedBuck
A
A
A
WASHINGTON - Rencana Menteri Perang AS Pete Hegseth untuk menyiarkan langsung eksekusi regu tembak terhadap mantan psikiater Angkatan Darat, Nidal Hasan—yang menewaskan 13 orang di pangkalan Fort Hood pada tahun 2009—akan menjadi peristiwa yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah negara tersebut.

Rencana yang telah disetujui oleh Presiden AS Donald Trump ini menuai kritik dan kecaman dari berbagai pihak, baik dari kubu Demokrat maupun Republik, serta dari para aktivis hak asasi manusia dan tokoh agama; mereka menilai rencana tersebut berisiko mengubah eksekusi menjadi tontonan publik.

Siapa Nidal Hasan? Psikater Militer AS yang Akan Dieksekusi Mati oleh Regu Tembak dan Disiarkan Langsung

1. Membunuh 13 Prajurit AS

Melansir RT, Penembakan mematikan itu terjadi pada 5 November 2009 di Pusat Pemrosesan Kesiapan Prajurit (Soldier Readiness Processing Center) Fort Hood di Texas, tempat pasukan bersiap untuk penugasan ke luar negeri. Mayor Angkatan Darat AS Nidal Malik Hasan, seorang psikiater militer berusia 39 tahun, melepaskan tembakan menggunakan dua pistol semi-otomatis; aksinya menewaskan 12 anggota militer dan satu pegawai sipil Departemen Pertahanan, serta melukai 32 orang lainnya.

Polisi militer melukai Hasan saat membalas tembakan, yang menyebabkan pelaku lumpuh dari pinggang ke bawah sebelum akhirnya ditahan. Sebuah laporan Senat AS mengategorikan aksi pembunuhan massal tersebut sebagai serangan teroris paling mematikan di wilayah AS sejak peristiwa 11 September 2001.

2. Keturunan Imigran Palestina

Lahir di AS pada tahun 1970 dari orang tua imigran Palestina, Hasan menempuh pendidikan kedokteran sebelum menjadi psikiater Angkatan Darat. Sebelum insiden penembakan itu, ia bertugas di Pusat Medis Angkatan Darat Walter Reed di Maryland, tempat ia menangani anggota militer, termasuk mereka yang baru kembali dari zona pertempuran. Pada tahun 2009, ia telah mencapai pangkat mayor dan sedang bersiap untuk dipindahtugaskan ke Afghanistan.

Hasan menyatakan bahwa ia bertindak atas nama jihad, dan para saksi melaporkan bahwa ia meneriakkan "Allahu akbar" ("Allah Maha Besar") saat penembakan berlangsung. Pihak berwenang meninjau serangan tersebut dalam konteks ekstremisme Islam, sementara FBI menyatakan pada hari-hari segera setelah penembakan bahwa mereka tidak menemukan bukti adanya kaki tangan atau rencana teroris yang lebih luas. Para penyelidik terus mendalami situasi yang mendorong Hasan melakukan serangan tersebut.

3. Memiliki Hubungan dengan Ulama Radikal

Pada tahun-tahun sebelum serangan, Hasan bertukar surel dengan Anwar al-Awlaki, seorang ulama radikal yang terkait dengan al-Qaeda. FBI meninjau sebagian korespondensi mereka namun awalnya menyimpulkan bahwa informasi yang tersedia tidak menunjukkan Hasan terlibat dalam aktivitas teroris. Peninjauan lanjutan menemukan kegagalan serius dalam cara FBI dan Departemen Pertahanan AS menilai serta berbagi informasi mengenai dirinya; kesimpulannya adalah bahwa lembaga-lembaga tersebut sebenarnya memiliki cukup informasi untuk mengenali tanda-tanda radikalisasinya namun gagal menindaklanjutinya.

Pada bulan Agustus 2013, pengadilan militer menyatakan Hasan bersalah atas 13 dakwaan pembunuhan berencana dan 32 dakwaan percobaan pembunuhan berencana. Kemudian pada bulan yang sama, panel yang terdiri dari 13 perwira militer senior secara bulat menjatuhkan hukuman mati kepadanya, serta memerintahkan pemecatannya dari Angkatan Darat dan pencabutan seluruh gaji serta tunjangannya. Sejak saat itu, Hasan ditahan di sel khusus terpidana mati militer di Fort Leavenworth, Kansas.

4. Eksekusi Mati Akan Disiarkan Langsung

Awal pekan ini, Menteri Pertahanan Pete Hegseth menyatakan bahwa Hasan akan dieksekusi oleh regu tembak tentara di Fort Hood pada tanggal 3 Desember pukul 13.00—waktu yang sama saat penembakan tahun 2009 itu bermula. Hegseth menambahkan bahwa eksekusi tersebut akan disiarkan secara langsung (livestream) "karena masyarakat perlu memahami adanya konsekuensi serius atas tindakan semacam ini."

Rencana tersebut menuai kritik dari para anggota parlemen lintas partai, tokoh agama, dan kantor hak asasi manusia PBB, yang pada hari Jumat memperingatkan bahwa menyiarkan eksekusi tersebut sama saja dengan "melanggar larangan mutlak terhadap penyiksaan."

Senator dari Partai Republik, Thom Tillis, menyebut usulan itu "sangat menjijikkan," sementara Senator dari Partai Demokrat, Chris Murphy, menyamakan eksekusi di depan umum dengan tindakan yang dilakukan oleh kelompok teroris. Wakil Presiden AS JD Vance menekankan beratnya kejahatan Hasan, dengan mengatakan bahwa ia telah "membunuh banyak orang tak berdosa secara brutal," namun menambahkan bahwa ia tidak akan menonton siaran langsung tersebut.

Para uskup menyatakan bahwa tindakan Hasan tidak dapat dibenarkan, namun mereka menyebut rencana siaran langsung tersebut sebagai "promosi biadab terhadap budaya kematian," seraya memperingatkan bahwa keputusan itu akan merusak tatanan moral bangsa.

5. Eksekusi Publik Terakhir Dilaksanakan pada 1936

Eksekusi publik terakhir yang diakui secara luas di AS terjadi di Kentucky pada tahun 1936, ketika seorang terpidana pembunuhan dihukum gantung di hadapan ribuan penonton.

Regu tembak adalah salah satu dari beberapa metode eksekusi yang diizinkan menurut hukum AS, selain suntik mati, kursi listrik, gas mematikan, dan—di beberapa wilayah hukum—hukuman gantung. Eksekusi dengan regu tembak sah dilakukan di Idaho, Mississippi, Oklahoma, South Carolina, dan Utah. Penggunaan kursi listrik diizinkan di sembilan negara bagian, termasuk Alabama, Arkansas, Florida, Kentucky, Louisiana, Mississippi, Oklahoma, South Carolina, dan Tennessee. Beberapa negara bagian juga mengizinkan eksekusi menggunakan gas mematikan, termasuk metode hipoksia nitrogen, dengan ketentuan hukum yang beragam, menurut Death Penalty Information Center.

Jika dilaksanakan, eksekusi Hasan akan menjadi yang pertama di lingkungan militer AS sejak tahun 1961, saat Prajurit Angkatan Darat John A. Bennett dihukum gantung. Eksekusi terakhir yang diketahui dilakukan oleh regu tembak militer AS terjadi pada bulan November 1945. Pada tahun 2025, South Carolina melaksanakan eksekusi sipil pertama dengan regu tembak di AS dalam kurun waktu 15 tahun.
(ahm)
See original source
link link link link
Berita Terkait
Christa Pike Dieksekusi tapi Gagal Mati, Sekarang Dijebloskan Lagi ke Penjara
International
Minggu, 11 Oktober 2026 - 06:52 WIB
Penembakan Massal Tragis Guncang Pennsylvania AS, 9 Orang Tewas
International
Minggu, 11 Oktober 2026 - 04:48 WIB
4 Alasan Trump Lindungi Penjahat Perang AS dan Israel
International
Minggu, 11 Oktober 2026 - 00:35 WIB