Mungkinkan Perang Yaman Dihentikan dengan Dialog?

img-redaksi Andika Hendra Mustaqim
Minggu, 11 Oktober 2026 - 02:20 WIB
Mungkinkan Perang Yaman Dihentikan dengan Dialog?
Perang Yaman disarankan untuk dihentikan dengan jalur dialog. Foto/X
A
A
A
SANAA - Utusan Khusus PBB untukYaman, Hans Grundberg, mengatakan bahwa negara tersebut telah kembali terjerumus ke dalam "perang skala penuh" seiring berlanjutnya pertempuran antara kelompok Houthi dan pasukan pemerintah yang diakui secara internasional.

Dalam pertemuan Dewan Keamanan PBB pada hari Jumat untuk membahas situasi di Yaman, Grundberg mengatakan bahwa warga sipil, termasuk perempuan dan anak-anak, menanggung "dampak terberat dari eskalasi kekerasan".

"Ketidakstabilan yang terus berlangsung di Timur Tengah terus memengaruhi dinamika di Yaman, sementara perkembangan di Yaman, pada gilirannya, berdampak luas ke seluruh kawasan," ujarnya, dilansir Al Jazeera.

"Keamanan kawasan, kebebasan navigasi, dan perlindungan perdagangan internasional merupakan kekhawatiran sah yang harus ditangani. Keterlibatan internasional terkait Yaman juga harus didasarkan pada realitas di Yaman serta kebutuhan dan aspirasi rakyatnya," tambah Grundberg.

Sang utusan menegaskan bahwa "kecuali jika perang ingin dijadikan kenyataan permanen bagi Yaman, saat ini adalah waktu yang tepat untuk mempertimbangkan strategi politik." "Pada akhirnya, keberhasilan di medan perang tidak dapat menggantikan negosiasi yang diperlukan untuk menyelesaikan konflik ini," ujarnya seraya mendesak anggota Dewan Keamanan untuk secara kolektif mendukung upaya mediasi.

Menurut PBB, setidaknya 46 warga sipil tewas dan lebih dari 130 lainnya terluka sejak bulan Agustus, dengan anak-anak menanggung dampak yang sangat berat akibat bentrokan yang terus berlangsung.

Perwakilan PBB untuk pemerintah Yaman yang diakui secara internasional, Abdullah Ali Fadhel al-Saadi, mengatakan kepada Dewan Keamanan bahwa ancaman dari kelompok Houthi bukan lagi sekadar "urusan internal Yaman".

Al-Saadi mendesak dewan untuk mengambil "langkah-langkah praktis yang tegas" guna mengurangi aliran dana, senjata, dan teknologi ke kelompok yang didukung Iran tersebut, serta memperkuat kerja sama dengan pemerintah Yaman.

Ia menyampaikan terima kasih kepada Riyadh—yang mendukung pemerintah Yaman—karena telah "berdiri bersama rakyat dan pemerintah Yaman, serta atas dukungan berkelanjutan mereka terhadap lembaga-lembaga negara dan perekonomian kami".

Pernyataan ini muncul di tengah berlanjutnya serangan Houthi terhadap Arab Saudi; Otoritas Penerbangan Sipil Saudi melaporkan pada hari Jumat bahwa Bandara Internasional King Khalid, di sebelah utara Riyadh, menjadi sasaran dua serangan pada hari Kamis yang menewaskan tiga warga negara Saudi. Negara-negara Teluk dan Eropa telah mengecam serangan terhadap bandara tersebut, di mana Departemen Luar Negeri Federal Swiss menyebutnya sebagai tindakan yang "tidak dapat diterima".

Dalam rapat dewan tersebut, perwakilan Arab Saudi untuk PBB, Abdulaziz al-Wasil, menyatakan bahwa badan PBB itu harus menyikapi "eskalasi berbahaya" yang sedang berlangsung di Yaman.

"Perkembangan pesat di Yaman serta eskalasi berkelanjutan oleh milisi teroris Houthi ini harus ditangani oleh Dewan," ujar al-Wasil.

Al-Wasil menambahkan bahwa Riyadh "tidak akan membiarkan Yaman dijadikan sebagai basis bagi ancaman terhadap keamanan mereka ataupun terhadap kebebasan navigasi".
(ahm)
See original source
link link link link
Berita Terkait
Rudal Houthi Serang Bandara Riyadh Arab Saudi, 12 Orang Tewas, 309 Terluka
International
Minggu, 11 Oktober 2026 - 06:24 WIB
Bandara Riyadh Kembali Diserang Rudal, 2 Orang Tewas, Pelaku Diduga Houthi
International
Minggu, 11 Oktober 2026 - 05:20 WIB
5 Alasan Navi Pillay Jadi Simbol Perlawanan terhadap AS dan Israel
International
Minggu, 11 Oktober 2026 - 03:30 WIB
Mungkinkan Perang Yaman Dihentikan dengan Dialog?
International
Minggu, 11 Oktober 2026 - 02:20 WIB
Siapa Dov Lando? Rabi Yahudi yang Klaim Bangsa Israel Akan Mengalami Bencana
International
Minggu, 11 Oktober 2026 - 01:10 WIB