Lebih dari 100 jenazah warga Palestina, termasuk sekitar 70 anak-anak, ditemukan dari Zaytoun. Foto/Ramadan Abu Sukar/QNN
JALUR GAZA - Satu tahun setelah kesepakatan yang disebut sebagai gencatan senjata di Gaza dicapai dengan dukungan Amerika Serikat, kesepakatan itu ternyata hanya ada di atas kertas. Penilaian itu menurut lebih dari 100 organisasi kemanusiaan, hak asasi manusia, dan masyarakat sipil.
"Gencatan senjata itu hanya ada namanya saja; pasukan Israel terus membunuh dan melukai warga Palestina setiap hari, sementara pembatasan terhadap bantuan, peralatan, dan material pembangunan kembali menghalangi keluarga-keluarga untuk bangkit kembali," demikian bunyi pernyataan bersama Organisasi Non-Pemerintah atau LSM-LSM tersebut pada hari Jumat (9/10/2026).
Amnesty International, Norwegian Refugee Council, Save the Children, Oxfam, Greenpeace, dan puluhan kelompok internasional lainnya menyatakan serangan Israel di wilayah kantong tersebut telah menewaskan lebih dari 1.400 warga Palestina—termasuk 327 anak-anak—dalam satu tahun sejak Presiden AS Trump mengumumkan kesepakatan untuk mengakhiri permusuhan sebagai bagian dari kerangka kerja Gaza Board of Peace.
"Sungguh memalukan bahwa satu tahun penuh setelah gencatan senjata ditandatangani, hanya ada sedikit perbaikan bagi warga Palestina di Gaza," ujar Jan Egeland, Sekretaris Jenderal Norwegian Refugee Council, dalam pernyataan bersama tersebut.
Inger Ashing, Kepala Eksekutif Save the Children, mengatakan, "Gencatan senjata tidak ada artinya jika anak-anak masih terus tewas dan keluarga-keluarga masih belum bisa membangun kembali kehidupan mereka."
Ia mencatat sejak gencatan senjata tanggal 10 Oktober 2025 diumumkan, "hampir satu anak tewas setiap harinya."
Dalam tiga tahun sejak perang genosida Israel dimulai pada Oktober 2023, lebih dari 74.000 warga Palestina tewas dan 175.000 lainnya terluka—sekitar satu dari setiap 13 orang di Gaza—menurut Kementerian Kesehatan Palestina.
Estimasi konservatif dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan sekitar 24 persen dari mereka yang terluka mengalami cedera yang mengubah hidup dan memerlukan rehabilitasi jangka panjang; seperempat di antaranya adalah anak-anak.
Fasilitas kesehatan yang tersisa di Gaza kewalahan menghadapi situasi ini dan persediaannya kian menipis; tidak satu pun dari 36 rumah sakit di sana beroperasi dengan kapasitas penuh, di tengah kelangkaan obat-obatan, peralatan, dan bahan bakar yang meluas, demikian pernyataan kementerian pada hari Jumat.
Disebutkan bahwa lebih dari 18.500 pasien, termasuk setidaknya 4.000 anak-anak, memerlukan evakuasi medis, dan lebih dari 1.000 orang telah meninggal dunia saat menunggu.
Hampir 2 juta warga Palestina di wilayah kantong tersebut juga sangat membutuhkan tempat berlindung, mengingat 80 persen bangunan telah rusak, demikian bunyi pernyataan itu.
Egeland dari Norwegian Refugee Council memperingatkan pembatasan terhadap peralatan dan bahan bangunan terus menghambat upaya pemulihan.
"Pembatasan oleh Israel masih menghalangi masuknya peralatan atau material yang dibutuhkan, yang merupakan satu-satunya cara bagi masyarakat untuk mulai membangun kembali kehidupan mereka," ujarnya.
Pada saat yang sama, pernyataan tersebut menambahkan 1,4 juta orang di Gaza "menghadapi kelaparan tingkat krisis atau lebih parah hingga akhir tahun."
(sya)