Presiden Rusia Vladimir Putin berjabat tangan dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian sebelum pertemuan di Turkmenbashi, Turkmenistan, 8 Oktober 2026. Foto/Sputnik/Sputnik/Sergey Bobylev
MOSKOW - Presiden Rusia Vladimir Putin menyatakan Iran berupaya mencari solusi diplomatik atas perang yang dipaksakan oleh Amerika Serikat terhadapnya. Putin menyatakan hal itu pada hari Kamis (8/10/2026) dalam pertemuan dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian.
Presiden Rusia tersebut mencatat Teheran baru-baru ini mengajukan proposal yang bertujuan menyelesaikan konflik secara damai. Putin menambahkan, Moskow bersedia memainkan peran konstruktif dalam proses tersebut.
"Iran melakukan upaya nyata untuk mengakhiri konflik, yang pecah di kawasan tersebut bukan karena kesalahannya sendiri, bukan karena kesalahan Iran," kata Putin.
Putin juga menyambut baik semakin eratnya kerja sama antara Rusia dan Iran, khususnya di bidang perdagangan dan urusan kemanusiaan, dalam pembicaraan bilateral di Turkmenistan, tempat ia dijadwalkan menghadiri KTT para pemimpin Persemakmuran Negara-Negara Merdeka (CIS) dan KTT lingkungan hidup Laut Kaspia.
Moskow telah berulang kali mengecam kampanye militer AS-Israel terhadap Iran dan menyerukan solusi diplomatik.
Saat berkunjung ke Teheran pada bulan Juli, mantan presiden Rusia yang kini menjabat sebagai wakil ketua Dewan Keamanan Rusia, Dmitry Medvedev, mengatakan "tidak ada alasan serius untuk serangan Amerika" karena Teheran "tidak menimbulkan ancaman" bagi Washington.
Pada akhir September, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengumumkan Teheran telah menyerahkan rencana perdamaian kepada AS.
Berdasarkan peta jalan tersebut, Republik Islam itu menyatakan kesiapannya memulihkan pelayaran melalui Selat Hormuz, jalur air yang sangat strategis bagi ekspor minyak mentah dari Timur Tengah.
Sebagai imbalannya, Iran yang sempat memberlakukan blokade terhadap jalur pengiriman minyak vital tersebut setelah konflik bermula, berharap AS akan mencabut blokade terhadap Republik Islam itu, melonggarkan pembatasan ekspor minyaknya, dan mencairkan sebagian asetnya yang dibekukan.
Teheran juga mengupayakan diakhirinya permusuhan di semua lini, termasuk operasi militer Israel di Lebanon.
Saat berpidato di hadapan Majelis Umum PBB di New York bulan lalu, Presiden Pezeshkian menegaskan kembali bahwa negaranya siap untuk "dialog dan diplomasi" namun tidak akan bernegosiasi di bawah ancaman.
Meskipun terdapat laporan media mengenai negosiasi tidak langsung antara kedua negara dalam beberapa minggu terakhir, Presiden Trump telah menolak mentah-mentah proposal Iran tersebut.
Ia mengatakan kepada para wartawan bahwa Teheran ingin "mencapai kesepakatan, namun itu bukan kesepakatan yang ingin saya capai."
Presiden AS juga mengisyaratkan Washington tidak menutup kemungkinan untuk kembali melancarkan serangan terhadap Iran dalam beberapa pekan mendatang.
(sya)