Personel militer Iran berpartisipasi dalam latihan Kendali Cerdas Selat Hormuz—yang diluncurkan Angkatan Laut IRGC di Teluk Persia dan Selat Hormuz pada 16 Februari 2026. Foto/Korps Garda Revolusi Islam/Anadolu Agency
TEHERAN - Komandan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Ahmad Vahidi, menyatakan Selat Hormuz merupakan "garis merah" strategis bagi Iran. Ia menolak kehadiran pasukan dari luar kawasan serta segala bentuk ancaman atau campur tangan yang melibatkan jalur perairan strategis tersebut.
Vahidi mengatakan perlindungan dan pemeliharaan Selat Hormuz berkaitan erat dengan kepentingan nasional Iran. Dia menegaskan Teheran memandang keamanan selat tersebut sebagai prioritas strategis.
Ia menambahkan Iran menganggap kehadiran pasukan dari luar kawasan di selat tersebut—atau upaya apa pun untuk menggunakan jalur perairan itu demi tujuan ancaman maupun campur tangan—sebagai hal yang tidak dapat diterima.
Sementara itu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan keberhasilan perundingan dengan Washington bergantung pada pelaksanaannya yang bebas dari "tekanan dan ancaman".
Saat berbicara dalam KTT Persemakmuran Negara-Negara Merdeka (CIS) di Turkmenistan, Masoud Pezeshkian mengatakan Iran menginginkan "kerja sama alih-alih persaingan yang melelahkan, saling ketergantungan alih-alih ketergantungan sepihak, serta keamanan yang didasarkan pada kepercayaan dan kepentingan bersama, bukan pada ancaman," sebagaimana dilaporkan kantor berita Iran, Fars.
Presiden tersebut menekankan pentingnya multilateralisme dan menjanjikan kawasan ini dapat menjadi "jaringan produksi, transmisi, dan pertukaran energi, alih-alih saling bersaing untuk menyingkirkan satu sama lain dari pasar energi."
"Negara-negara di kawasan yang penting dan strategis ini harus menjadi salah satu pemain kunci dalam membentuk dunia multipolar," tambah Pezeshkian.
(sya)