Pasukan IRGC masih mengendalikan Selat Hormuz. Foto/mehr
TEHERAN - Pejabat bidang politik Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan pasukannya telah melakukan operasi malam hari di Selat Hormuz yang menyasar kapal-kapal yang dianggap melanggar aturan. Pernyataan itu muncul seiring negosiasi yang terhambat antara Amerika Serikat dan Iran.
"Setiap malam, sejak awal perang hingga saat ini, Angkatan Laut IRGC telah melaksanakan operasi-operasi tersebut demi melindungi kepentingan negara," ujar Ali Mohammadi kepada kantor berita Fars.
"Angkatan Laut IRGC telah melakukan pengawasan penuh dan mutlak atas Selat Hormuz sejak hari pertama perang," tambahnya, seraya menyebutkan pasukannya dapat "memaksakan kehendak" terhadap kapal-kapal yang dinilai melanggar aturan mereka.
Sementara itu, sebanyak 81 pesawat militer Amerika Serikat, termasuk jet tempur dan pesawat nirawak (drone), telah hilang atau rusak selama Operasi Epic Fury, nama sandi bagi kampanye militer Washington melawan Iran yang diluncurkan awal tahun ini.
Data statistik tersebut tercantum dalam laporan yang dirilis pada hari Senin oleh Congressional Budget Office (CBO), badan pemerintah nonpartisan yang menyediakan penelitian terkait anggaran bagi badan legislatif.
Laporan itu memperkirakan per 1 Agustus, kerugian akibat hilangnya pesawat AS selama perang AS-Israel melawan Iran berkisar antara USD1,9 miliar hingga USD3,3 miliar.
Laporan pekan ini menyoroti membengkaknya biaya perang yang telah berlangsung sejak 28 Februari tersebut. Kesepakatan gencatan senjata yang permanen belum juga tercapai seiring berlanjutnya konflik hingga memasuki bulan kedelapan.
(sya)