PM Israel Benjamin Netanyahu (kiri) dan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei. Foto/The National News
TEHERAN -
Iran menanggapi pernyataan Duta Besar Israel untuk India, Reuven Azar, yang melontarkan kritik terhadap Republik Islam Iran menjelang peringatan tiga tahun serangan Hamas pada 7 Oktober. Teheran menegaskan bahwa sumber utama ketidakamanan di Timur Tengah bukanlah masyarakat di kawasan tersebut, melainkan kebijakan agresif, pendudukan, dan provokasi perang Israel yang didukung Amerika Serikat (AS).
Dalam pernyataan yang diunggah di platform X, Kedutaan Besar Iran di India menyebut tuduhan Azar yang menggambarkan Gaza dan Lebanon sebagai "proksi" rezim di Teheran sebagai pernyataan yang tidak berdasar dan menyesatkan. Iran menegaskan bahwa masyarakat Gaza dan Lebanon bukanlah proksi negara mana pun, melainkan orang-orang yang berjuang demi tanah air, keamanan, dan martabat mereka.
Misi diplomatik Iran juga mempertanyakan klaim Israel sebagai pelindung keamanan regional. Iran menyinggung serangan terhadap Qatar dan Beirut, kehancuran di Gaza, serta pendudukan Dataran Tinggi Golan yang masih berlangsung. Iran menyebut lebih dari 70.000 orang telah tewas di Gaza.
Pernyataan tersebut muncul setelah Azar berbicara kepada
NDTV mengenai tiga tahun sejak serangan Hamas pada 7 Oktober 2023. Dia mengatakan luka akibat serangan tersebut masih terasa di Israel, meskipun berbagai komunitas mulai membangun kembali kehidupan mereka. Azar juga membahas kemampuan militer Hamas dan ancaman keamanan regional yang masih berlangsung.
Dalam tanggapannya terhadap tuduhan diplomat Israel tersebut, Kedutaan Besar Iran menyatakan bahwa selama bertahun-tahun, negara-negara Teluk meyakini AS dan Israel dapat menjamin keamanan mereka.
"Namun, saat ini, sebuah pertanyaan sederhana muncul di hadapan opini publik di seluruh kawasan: Siapa yang menyerang Qatar? Siapa yang menargetkan Beirut? Siapa yang mengubah Gaza menjadi puing-puing? Dan siapa yang terus menduduki sebagian wilayah Suriah, termasuk Dataran Tinggi Golan?" demikian pernyataan Kedutaan Besar Iran.
Dalam pernyataan resmi bertanggal 8 Oktober 2026, Kedutaan Besar Republik Islam Iran di India menyatakan bahwa perkembangan di Asia Barat dalam beberapa tahun terakhir kembali membuktikan bahwa sumber utama ketidakamanan dan ketidakstabilan kawasan bukanlah masyarakatnya, melainkan kebijakan Israel yang agresif, menduduki wilayah, dan memicu perang, serta dukungan menyeluruh yang diberikan AS kepada negara tersebut.
Iran menilai, sebuah rezim yang berbicara tentang "perdamaian", "Perjanjian Abraham", dan normalisasi hubungan dengan negara-negara di kawasan, tetapi pada saat bersamaan menyerang negara-negara Arab, menduduki wilayah Arab, serta membunuh lebih dari 70.000 warga sipil di Gaza, tidak dapat menampilkan dirinya sebagai pelindung keamanan regional.
"Keamanan tidak dibangun melalui pengeboman, pendudukan, pembunuhan yang ditargetkan, dan pembunuhan warga sipil," demikian pernyataan tersebut.
Iran menyebut tindakan Israel di Gaza serta serangannya terhadap Lebanon dan negara-negara lain di kawasan telah memperlihatkan karakter dan kebijakan Israel dengan lebih jelas daripada klaim apa pun yang disampaikan negara tersebut.
Menurut Teheran, upaya menggambarkan masyarakat Gaza dan Lebanon sebagai "proksi" semata-mata bertujuan mengalihkan perhatian publik dari kenyataan.
"Masyarakat Gaza dan Lebanon bukanlah proksi negara mana pun. Mereka adalah manusia yang berjuang demi tanah air, keamanan, martabat, hak untuk hidup, dan hak asasi manusia mereka," lanjut pernyataan itu.
Iran menambahkan, dunia tidak dapat mengabaikan puluhan tahun pendudukan, pengusiran, pembunuhan, dan perampasan hak-hak dasar suatu bangsa, kemudian menjelaskan perlawanan mereka hanya melalui label politik.
Iran Klaim Mampu Bertahan Menghadapi AS dan Israel
Kedutaan Besar Iran juga menyinggung perang yang melibatkan AS dan Israel, yang menurut pernyataan tersebut telah berlangsung selama sembilan bulan. Teheran menyatakan bahwa Republik Islam Iran tetap bertahan meskipun menghadapi sanksi, tekanan, dan ancaman selama 47 tahun.
Iran mengeklaim telah mampu mempertahankan keutuhan wilayah dan keamanan nasionalnya ketika menghadapi agresi militer dari dua negara yang dilengkapi senjata nuklir.
"Hari ini, seperti burung phoenix yang muncul dari jantung api, Iran sepenuhnya siap mempertahankan kedaulatan nasional dan keutuhan wilayahnya serta menghadapi setiap agresi militer," sambung pernyataan Kedutaan Iran.
"Kekuatan sejati sebuah ‘bangsa yang bangkit kembali' tidak dapat diubah melalui operasi psikologis, propaganda politik, dan pembentukan narasi media."
Pernyataan itu menegaskan bahwa Iran akan terus mempertahankan kedaulatan dan keutuhan wilayahnya di tengah ancaman militer.
Iran Singgung Walkout Massal di PBB dan Isolasi Israel
Kedutaan Besar Iran turut menyinggung aksi sejumlah delegasi negara yang meninggalkan ruang sidang secara massal ketika Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyampaikan pidatonya di Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Teheran menilai peristiwa tersebut mencerminkan isolasi politik dan moral Israel di forum internasional.
"Opini publik global saat ini menyaksikan kenyataan di kawasan tersebut lebih jelas daripada sebelumnya. Isolasi politik dan moral rezim Zionis dalam sidang terbaru Majelis Umum PBB, meningkatnya protes masyarakat, serta reaksi internasional yang meluas terhadap kejahatannya di Gaza menunjukkan bahwa opini publik tidak lagi mudah menerima narasi yang menyimpangkan kenyataan," kata Kedutaan Iran.
Iran juga mengeklaim bahwa masyarakat internasional semakin memperhatikan tindakan Israel di Gaza dan dampaknya terhadap penduduk Palestina.
Dalam pernyataan yang sama, Iran menuduh Israel memberikan dukungan praktis kepada kelompok-kelompok bersenjata di Suriah. Teheran juga menyinggung laporan mengenai penanganan anggota kelompok yang terkait dengan ISIS di rumah sakit Israel.
Iran menyatakan bahwa masyarakat di kawasan tersebut masih mengingat gambar dan laporan mengenai dugaan dukungan Israel kepada kelompok-kelompok bersenjata serta perawatan terhadap orang-orang yang terluka dan memiliki keterkaitan dengan ISIS di rumah sakit negara itu.
Menurut Iran, pihak yang menampilkan diri sebagai pembela perang melawan terorisme tidak dapat berharap masyarakat di kawasan tersebut melupakan catatan sejarah yang mereka ketahui.
Tuduhan tersebut disampaikan sebagai bagian dari bantahan Iran terhadap narasi keamanan yang dikemukakan Israel.
Menutup pernyataannya, Kedutaan Besar Iran menegaskan bahwa sejarah Palestina tidak dimulai pada 7 Oktober 2023, ketika Hamas melancarkan serangan terhadap Israel.
Menurut Teheran, peristiwa tersebut tidak dapat dipisahkan dari puluhan tahun pendudukan, pengusiran, pembangunan permukiman, pembunuhan, pembunuhan yang ditargetkan, represi, serta perampasan hak-hak dasar rakyat Palestina.
"Jika peristiwa 7 Oktober hendak dibahas, sejarah harus dilihat sejak 1948. Harus ditanyakan apa yang telah terjadi terhadap rakyat Palestina, khususnya masyarakat Gaza, selama puluhan tahun terakhir hingga memicu respons seperti itu," imbuh Kedutaan Iran.
Teheran menambahkan bahwa tidak ada bangsa atau masyarakat yang dapat terus-menerus dirampas hak-haknya dan diharapkan tidak memberikan respons terhadap sejarah yang mereka alami.
"Tidak diragukan lagi, kemenangan akhir menjadi milik bangsa-bangsa yang berjuang untuk membebaskan tanah air mereka, mempertahankan hak dan martabat manusia, serta mencapai kebebasan dan keadilan."
(mas)