Dalam Islam, panjang umur justru dapat menjadi musibah apabila tidak dimanfaatkan untuk beribadah dan memperbanyak kebaikan. Foto ilustrasi/ist
Banyak orang berharap dikaruniai
umur panjang. Tak sedikit pula yang meminta didoakan agar dapat hidup hingga usia lanjut. Namun, dalam Islam, panjangnya usia bukan satu-satunya ukuran keberuntungan seseorang. Umur yang panjang semestinya diiringi dengan amal saleh dan ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Pengasuh Pondok Pesantren Al-Fachriyah, Tangerang, Al-Habib Jindan bin Novel Salim Jindan, mengingatkan bahwa panjang umur justru dapat menjadi
musibahapabila tidak dimanfaatkan untuk beribadah dan memperbanyak kebaikan.
Menurutnya, hal terpenting bukan sekadar berapa lama seseorang hidup di dunia, melainkan bagaimana ia menggunakan waktu yang diberikan Allah. "Sebaik-baik di antara kalian adalah yang umurnya panjang dan amalannya bagus. Bukan sekadar berdoa minta panjang umur. Prioritasnya adalah amalan yang bagus, amalan yang baik. Amalan yang baik walaupun umur pendek tetapi berkah," kata Habib Jindan saat mengisi kajian belum lama ini.
Pesan tersebut mengingatkan umat Islam agar tidak hanya mengejar panjangnya usia, tetapi juga berusaha mengisi setiap waktu dengan amal yang diridai Allah.
Umur Pendek Harus Diisi dengan Amal Saleh
Habib Jindan menjelaskan bahwa umat Nabi Muhammad memiliki keutamaan besar dalam kaitannya dengan kehidupan akhirat. Ia menyampaikan gambaran tentang banyaknya umat Nabi Muhammad yang menjadi penghuni surga, sekaligus mengingatkan bahwa kesempatan hidup di dunia harus dimanfaatkan sebaik-baiknya.
Menurutnya, perjalanan menuju usia 40 tahun saja telah melalui berbagai fase kehidupan dan kesempatan yang tidak boleh disia-siakan. Karena itu, waktu yang tersedia hendaknya tidak habis untuk perkara yang tidak bermanfaat atau kegiatan yang menjauhkan seseorang dari ketaatan.
"Umur kita memang pendek, jangan dihabiskan untuk hal yang enggak manfaat, untuk hal yang sia-sia, untuk hal-hal yang enggak diperintahkan," tuturnya.
Ia juga mengingatkan bahwa manusia tidak diperintahkan menjadikan harta, jabatan, dan popularitas sebagai tujuan utama kehidupan. Semua itu semestinya ditempatkan sebagai sarana untuk menjalankan tanggung jawab dan mendukung ibadah kepada Allah.
"Umur kita yang pendek harus diisi seperti yang diperintahkan oleh Allah. Adapun bekerja adalah untuk mendukung ibadah. Kita hidup untuk beribadah, bukan untuk makan. Kita makan agar kita bisa ibadah," ujarnya.
Pesan ini menegaskan pentingnya meluruskan niat dalam menjalani kehidupan. Bekerja, mencari nafkah, belajar, dan memenuhi kebutuhan sehari-hari dapat bernilai kebaikan apabila dilakukan dengan cara yang benar dan diniatkan untuk memperoleh rida Allah.
Panjang Umur Tanpa Kebaikan Bisa Menjadi Bencana
Habib Jindan kembali menekankan bahwa panjangnya usia tidak selalu menjadi keberuntungan apabila seseorang justru semakin jauh dari Allah. Umur yang terus bertambah, tetapi dipenuhi maksiat dan keburukan, merupakan keadaan yang patut dikhawatirkan.
Sebaliknya, orang yang memanfaatkan waktunya untuk beribadah dan berbuat baik telah menggunakan kesempatan hidupnya untuk mempersiapkan bekal akhirat.
"Umur panjang tetapi amalannya buruk itu musibah. Kalau ada orang minta didoakan umur panjang, kita tanya mau ngapain? Kita dikasih 24 jam, berapa banyak buat masjid? Ini saja duduk di masjid sebentar sudah kesemutan, gelisah. Dari 24 jam yang kita habiskan, berapa lama buat baca Al-Qur'an?" paparnya.
Pertanyaan tersebut menjadi bahan introspeksi bagi setiap Muslim. Dalam sehari semalam, manusia memiliki waktu yang sama, yakni 24 jam. Namun, pemanfaatannya berbeda-beda. Ada yang menggunakannya untuk mendekatkan diri kepada Allah, tetapi ada pula yang membiarkannya berlalu tanpa kegiatan yang berarti.
Karena itu, umat Islam perlu mengevaluasi kesehariannya. Apakah waktu yang tersedia sudah digunakan untuk salat, membaca Al-Qur'an, berzikir, menuntut ilmu, membantu sesama, dan menunaikan tanggung jawab? Ataukah justru lebih banyak tersita untuk hal-hal yang tidak membawa manfaat?
Meneladani Rasulullah dalam Memanfaatkan Waktu
Rasulullah Muhammad dikenal sebagai teladan dalam mengingat Allah dan menjalani kehidupan dengan penuh ketaatan. Habib Jindan mengingatkan umat Islam agar mencontoh beliau dalam memanfaatkan waktu, termasuk dengan membiasakan zikir dan menjalankan sunah dalam aktivitas sehari-hari.
Amal kebaikan tidak harus selalu dilakukan dalam kegiatan besar. Seorang Muslim dapat memulainya melalui kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten.
Saat bepergian menggunakan angkutan umum, misalnya, waktu dapat dimanfaatkan untuk membaca Al-Qur'an, berzikir, atau mendengarkan kajian agama. Ketika berada di kantor, seorang Muslim juga dapat menjaga salat wajib dan melaksanakan salat Duha apabila memungkinkan.
Begitu pula ketika makan, bekerja, dan berinteraksi dengan orang lain, setiap Muslim dapat berusaha mengikuti tuntunan Rasulullah serta menjaga akhlak dalam kesehariannya.
Dengan cara tersebut, aktivitas duniawi tidak harus menjadi penghalang untuk beribadah. Sebaliknya, berbagai kegiatan dapat menjadi sarana untuk memperoleh pahala selama dilakukan sesuai tuntunan agama dan disertai niat yang baik.
Memohon Umur yang Berkah
Pada akhirnya, panjang umur perlu disertai keberkahan. Umur yang berkah adalah kesempatan untuk terus memperbaiki diri, meningkatkan ketaatan, serta memberikan manfaat kepada keluarga dan masyarakat.
Karena itu, ketika memohon umur panjang, seorang Muslim juga perlu berusaha memperbaiki kualitas amalnya. Jangan sampai waktu yang diberikan Allah justru habis untuk mengejar kesenangan dunia tanpa memikirkan kehidupan akhirat.
Setiap detik yang berlalu tidak akan kembali. Selagi masih diberi kesempatan hidup, umat Islam hendaknya memperbanyak ibadah, menjaga hubungan dengan sesama, menunaikan amanah, dan menjauhi perbuatan dosa.
Semoga Allah memakmurkan kehidupan kita dengan amal saleh, memberkahi umur yang diberikan, serta menjadikan setiap waktu yang berlalu sebagai jalan untuk semakin dekat kepada-Nya.
(wid)