Misteri Umur 60 Tahun, Mengapa Kaum Muslim Harus Waspada?

img-redaksi Widaningsih
Jum'at, 09 Oktober 2026 - 11:43 WIB
Misteri Umur 60 Tahun, Mengapa Kaum Muslim Harus Waspada?
Bagi mereka yang telah mencapai usia 60 tahun, hadis Rasulullah tersebut menjadi pengingat agar tidak lagi menyia-nyiakan kesempatan yang tersisa. Foto ilustrasi/ist
A
A
A
Umur 60 tahun menjadi salah satu pengingat penting bagi seorang Muslim untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Pada usia ini, seseorang seharusnya semakin menyadari bahwa kesempatan hidup di dunia terus berkurang dan persiapan menuju kehidupan akhirat perlu lebih diutamakan.

Peringatan tersebut disampaikan Rasulullah Shallalahu Alaihi Wassalamdalam sebuah hadis sahih yang diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu.

Rasulullah Shallalahu Alaihi Wassalam bersabda:

أَعْذَرَ اللَّهُ إِلَى امْرِئٍ أَخَّرَ أَجَلَهُ حَتَّى بَلَّغَهُ سِتِّينَ سَنَةً


Artinya: "Allah telah memberikan kesempatan kepada seseorang dengan menangguhkan ajalnya hingga mencapai usia 60 tahun." (HR Al-Bukhari, No. 6419).

Hadis ini menjadi pengingat bahwa panjangnya usia merupakan kesempatan bagi manusia untuk memperbanyak amal saleh, memperbaiki diri, serta bertobat dari berbagai kesalahan yang pernah dilakukan.

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani menjelaskan bahwa seseorang yang telah mencapai usia tersebut tidak lagi memiliki alasan untuk menunda ketaatan kepada Allah, terlebih jika selama hidupnya telah diberikan kesempatan dan kemampuan untuk menjalankan perintah-Nya.

Dalam kitab Fathul Bari (11/240), Ibnu Hajar menerangkan bahwa seseorang mungkin beralasan akan melakukan kebaikan apabila usianya masih dipanjangkan. Namun, ketika kesempatan hidup telah diberikan hingga usia 60 tahun, alasan semacam itu semestinya tidak lagi menjadi pembenaran untuk meninggalkan ketaatan.

Karena itu, orang yang telah mencapai usia tersebut sepatutnya memperbanyak istighfar, meningkatkan ibadah, dan lebih memusatkan perhatian pada persiapan kehidupan akhirat.

Bukan Berarti Usia Muda Boleh Menunda Tobat

Peringatan dalam hadis tersebut bukan berarti seseorang yang berusia di bawah 60 tahun boleh menunda ibadah, meremehkan dosa, atau menangguhkan tobat hingga memasuki usia senja.

Setiap Muslim tetap berkewajiban menaati perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, berapa pun usianya. Tidak seorang pun dapat memastikan kapan ajal akan menjemput.

Al-Maghamisi menjelaskan bahwa hadis tersebut tidak memberikan pembenaran kepada orang yang belum mencapai usia 60 tahun untuk melanggar perintah Allah.

Sebaliknya, hadis itu merupakan dorongan agar mereka yang telah mencapai usia tersebut semakin meningkatkan ketakwaan dan memanfaatkan sisa hidupnya untuk beribadah.

Dengan demikian, usia 60 tahun bukanlah batas awal untuk bertobat, melainkan momentum untuk semakin menyadari pentingnya memperbaiki diri. Sebab, kesempatan hidup yang diberikan Allah tidak menjamin seseorang akan memperoleh waktu yang lebih panjang pada masa mendatang.

Nasihat Imam Fudhail bin Iyadh tentang Sisa Usia

Pentingnya memanfaatkan waktu hidup juga tergambar dalam sebuah kisah yang dinukil dalam kitab Hilyatul Auliya'. Kisah tersebut menceritakan pertemuan Imam Fudhail bin Iyadh dengan seorang lelaki yang telah berusia lanjut.

Imam Fudhail bertanya kepada lelaki itu mengenai usianya.

"Berapa usia Anda?" tanya Fudhail.

"Enam puluh tahun," jawab lelaki tersebut.

Fudhail kemudian berkata, "Berarti selama 60 tahun Anda berjalan menuju Tuhan Anda, dan sebentar lagi Anda akan sampai."

Mendengar perkataan itu, lelaki tersebut mengucapkan kalimat istirja':

إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ


Artinya: "Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami akan kembali."

Fudhail kemudian bertanya apakah lelaki itu memahami makna kalimat tersebut. Lelaki itu meminta sang ulama menjelaskannya.

Fudhail menerangkan bahwa pengakuan sebagai milik Allah berarti manusia adalah hamba-Nya dan kelak akan kembali kepada-Nya. Orang yang meyakini hal itu seharusnya menyadari bahwa dirinya akan berdiri di hadapan Allah dan mempertanggungjawabkan seluruh perbuatannya.

Karena itu, seseorang perlu mempersiapkan jawaban atas segala amal yang telah dikerjakannya selama hidup di dunia. Lelaki itu kemudian bertanya tentang jalan keluar agar dapat menghadapi kehidupan akhirat dengan baik.

Imam Fudhail menjawab dengan sebuah nasihat yang mendalam:

تُحْسِنُ فِيمَا بَقِيَ يُغْفَرْ لَكَ مَا مَضَى وَمَا بَقِيَ، فَإِنَّكَ إِنْ أَسَأْتَ فِيمَا بَقِيَ أُخِذْتَ بِمَا مَضَى وَمَا بَقِيَ


Artinya: "Berbuat baiklah pada sisa usiamu, niscaya kesalahan yang telah lalu akan diampuni. Namun, jika kamu tetap berbuat buruk pada sisa usiamu, kamu akan dimintai pertanggungjawaban atas keburukan yang telah lalu dan yang masih kamu lakukan."

Nasihat tersebut dinukil dalam kitab Hilyatul Auliya' (8/113). Pesan utamanya adalah jangan membiarkan kesalahan masa lalu menghalangi seseorang untuk memperbaiki diri. Selama masih hidup, kesempatan untuk bertobat dan memperbanyak kebaikan tetap perlu dimanfaatkan.

Jangan Menunggu Tua untuk Memperbaiki Diri

Tidak ada seorang pun yang mengetahui secara pasti berapa lama lagi ia akan hidup. Seseorang yang masih muda belum tentu memiliki kesempatan mencapai usia lanjut, sementara orang yang telah berusia 60 tahun pun tidak mengetahui kapan ajalnya tiba.

Oleh karena itu, setiap waktu yang masih diberikan Allah hendaknya dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas ibadah, memperbaiki hubungan dengan sesama, menunaikan kewajiban, dan menjauhi perbuatan dosa.

Bagi mereka yang telah mencapai usia 60 tahun, hadis Rasulullah tersebut menjadi pengingat agar tidak lagi menyia-nyiakan kesempatan yang tersisa. Sementara bagi mereka yang masih muda, pesan yang sama berlaku: jangan menunda ketaatan dengan alasan masih memiliki banyak waktu.

Pada akhirnya, bukan semata-mata panjangnya usia yang menentukan nilai kehidupan seseorang, melainkan bagaimana waktu tersebut digunakan untuk berbuat kebaikan dan mempersiapkan diri menghadap Allah Subhanahu wa Ta'ala.

(wid)
See original source
link link link link
Berita Terkait
Misteri Umur 60 Tahun, Mengapa Kaum Muslim Harus Waspada?
Kalam
Jum'at, 09 Oktober 2026 - 11:43 WIB
Khotbah Jumat: Amalan-amalan yang Pahalanya Setara Ibadah Haji
Kalam
Jum'at, 09 Oktober 2026 - 05:15 WIB