Pesawat AWACS E-3 Sentry AS hancur diserang rudal dan drone Iran di Pangkalan Prince Sultan, Arab Saudi. Padahal pangkalan ini dilindungi sistem pertahanan THAAD. Foto/PressTV
TEHERAN - Menteri Luar Negeri (Menlu)
Iran Abbas Araghchi mengatakan jumlah sebenarnya pesawat militer Amerika Serikat (AS) yang dijatuhkan Iran dalam perang baru-baru ini jauh lebih banyak daripada yang dilaporkan Washington.
Araghchi menyampaikan pernyataan tersebut melalui akun X-nya pada Kamis. Dia mengutip data dari Congressional Research Service (CRS), lembaga riset di bawah Kongres AS, sembari mempertanyakan laporan Washington mengenai kerugian di pangkalan-pangkalan militernya.
Menurut Araghchi, CRS telah mengakui pada Mei bahwa angkatan bersenjata Iran menjatuhkan 42 pesawat militer AS. Namun, dia menambahkan bahwa jumlah tersebut kini meningkat menjadi 81 unit. "Jumlah sebenarnya jauh lebih besar," tulis Araghchi.
Sebagai indikasi dugaan upaya menutupi kerugian, diplomat tertinggi Iran itu menyoroti penolakan Komando Pusat AS (CENTCOM) untuk mengizinkan seorang senator AS yang masih menjabat memeriksa pangkalan-pangkalan militer di Teluk yang diklaim tidak mengalami kerusakan. Araghchi tidak memberikan perincian lebih lanjut mengenai klaim tersebut.
"Anda bisa menipu semua orang untuk sementara waktu," tulis Araghchi, merujuk pada kutipan terkenal mantan Presiden AS Abraham Lincoln: "Anda bisa menipu semua orang untuk sementara waktu dan sebagian orang sepanjang waktu, tetapi Anda tidak bisa menipu semua orang sepanjang waktu."
Sebuah laporan CRS yang dirilis pada Senin menyebutkan bahwa 82 pesawat militer dan drone Amerika Serikat telah hilang atau pun rusak selama perang Presiden Donald Trump terhadap Iran. Total biaya untuk mengganti seluruh aset tersebut diperkirakan mencapai USD1,9 miliar hingga USD3,3 miliar.
Perhitungan itu mencakup pesawat berawak, helikopter, dan sistem nirawak. Daftar tersebut meliputi kerugian dalam pertempuran, insiden yang diduga sebagai kecelakaan, serta pesawat yang rusak atau hancur saat berada di darat.
Drone MQ-9 Reaper menyumbang lebih dari separuh total kerugian tersebut. Daftar itu juga mencakup sejumlah aset bernilai tinggi, seperti jet tempur siluman F-35A dan pesawat peringatan dini E-3 Sentry, serta hingga 12 jet tempur F-15E Strike Eagle, tujuh pesawat tanker KC-135, dan tujuh helikopter.
Sementara itu,
CNN memperkirakan total biaya perang telah melampaui USD45 miliar. Namun, angka tersebut tidak mencakup kerusakan infrastruktur di pangkalan-pangkalan AS di kawasan tersebut, termasuk pangkalan tempat sejumlah pesawat mengalami kerugian.
Dalam beberapa bulan terakhir, Pentagon juga menghadapi tuduhan tidak melaporkan secara lengkap jumlah korban di kalangan pasukan Amerika di Asia Barat atau Timur Tengah.
Pemerintahan Presiden Donald Trump, yang menyebut dirinya sebagai "pemerintahan paling transparan dalam sejarah", kini menghadapi sorotan terkait kurangnya keterbukaan. Sebuah laporan yang mengutip pejabat AS menyebutkan bahwa lebih banyak tentara Amerika tewas dalam perang selama 40 hari melawan Iran dibandingkan jumlah yang diumumkan Pentagon.
Sekadar diketahui, Iran mengalami dua gelombang besar agresi militer AS-Israel yang disebut tidak beralasan selama tahun kalender Iran sebelumnya, yakni periode Maret 2025 hingga Maret 2026.
Gelombang pertama berupa perang selama 12 hari pada Juni 2025. Menurut angka resmi pemerintah Iran, lebih dari 1.000 orang tewas dalam serangan tersebut, termasuk perempuan dan anak-anak.
Gelombang kedua dimulai pada 28 Februari, ketika serangan gabungan AS-Israel menyasar berbagai lokasi di Iran.
Perang berlangsung sekitar 40 hari sebelum gencatan senjata tercapai pada April. Otoritas kesehatan Iran melaporkan lebih dari 3.500 orang tewas selama serangan tersebut, termasuk ratusan perempuan dan anak-anak.
Dalam kedua perang itu, angkatan bersenjata Iran melancarkan serangan balasan terhadap pasukan yang menyerang. Iran juga mempertahankan tekanan militer yang, menurut narasi Teheran, turut berkontribusi terhadap tercapainya gencatan senjata.
(mas)