Kapal induk USS Abraham Lincoln tiba di pangkalan asalnya di San Diego, AS, Kamis (8/10/2026). Kapal ini ditarik mundur dari misi perang melawan Iran. Foto/US Navy
WASHINGTON -
Kapal induk USS Abraham Lincoln telah tiba di pangkalan asalnya di San Diego, Amerika Serikat (AS), pada hari Kamis setelah menjalani pengerahan selama 10 bulan yang penuh tantangan di kawasan Teluk. Kapal itu ditarik mundur dari misi perang melawan Iran.
Selama menjalankan misi, kapal USS Abraham Lincoln diwarnai masalah moral awak, upaya bunuh diri, dan keterbatasan pilihan makanan, sehingga memicu kekhawatiran mengenai kesejahteraan ribuan personel di dalamnya.
Keluarga para prajurit Amerika berbaris di dermaga San Diego, California, ketika menyambut kepulangan orang-orang terkasih yang hampir setahun tidak mereka temui.
Alba Solano mengatakan kepada
AFP bahwa dia dan putrinya merasa gugup sekaligus sangat bersemangat karena akan bertemu kembali dengan pasangannya. Selama misi berlangsung, mereka kesulitan berkomunikasi.
"Kami mendapat kabar darinya melalui email...kami bisa saling mengirim pesan teks sesekali. Panggilan telepon sangat buruk. Tidak pernah berfungsi dengan baik. Dia bisa mendengar kami, tetapi kami tidak bisa mendengarnya," kata Solano.
"Panggilan video sering mengalami gangguan. Jadi, ya, begitulah. Kami sempat mendengar kabarnya ketika dia berada di Thailand. Itu menjadi panggilan telepon yang jelas setelah sekian lama," ujarnya, yang dilansir Jumat (9/10/2026).
Kapal induk bertenaga nuklir berukuran besar tersebut meninggalkan California pada November 2025 untuk bertugas di Laut China Selatan. Namun, sebelum serangan AS-Israel terhadap Iran dimulai pada akhir Februari, kapal itu dialihkan menuju Timur Tengah.
USS Abraham Lincoln terus berada di laut hingga akhirnya singgah di Thailand pada awal September.
Pengerahan yang berkepanjangan tersebut berdampak terhadap personel militer AS di atas USS Abraham Lincoln dan kapal-kapal perang yang menyertainya.
Pada Agustus, keluarga personel militer dan sejumlah anggota parlemen menyuarakan kekhawatiran mengenai berbagai persoalan di kapal induk tersebut, termasuk laporan tentang upaya bunuh diri para awak dan kekurangan makanan.
Bulan lalu, pemerintahan Trump mengakui dalam surat kepada seorang anggota parlemen bahwa terdapat delapan upaya bunuh diri yang dilakukan personel militer AS dalam kelompok tempur kapal induk Lincoln. Namun, pemerintah menyatakan tidak ada satu pun dari mereka yang meninggal dunia.
Surat dari Penjabat Sekretaris Angkatan Laut AS Hung Cao itu memberikan perincian mengenai sejumlah insiden tersebut.
Dalam surat tersebut disebutkan bahwa seorang pelaut yang bertugas di sayap udara kapal "jatuh ke laut dari kapal pada awal Agustus" dan segera berhasil diselamatkan. Sementara itu, seorang pelaut lainnya "berusaha melompat ke laut pada Maret, tetapi berhasil dicegah oleh rekan-rekannya".
Surat itu juga menyatakan bahwa persediaan makanan di kapal induk sebenarnya "memadai". Namun, keterbatasan kesempatan untuk mengisi kembali persediaan selama operasi tempur menyebabkan "jumlah pilihan hidangan utama" dikurangi dari dua menjadi satu untuk sementara waktu.
Patricia Harmon, seorang veteran Angkatan Darat AS yang menunggu kepulangan putranya yang bertugas sebagai pelaut, mengatakan dia membayangkan kehidupan di kapal tersebut pasti sangat berat.
"Saya yakin itu pasti menantang karena tidak ada banyak tempat untuk melepaskan penat," katanya kepada
AFP.
"Dia berada di sana lebih lama daripada yang kami perkirakan, tetapi begitulah kehidupan di militer," ujarnya.
Meski demikian, Harmon mengatakan kesulitan yang dialami selama beberapa bulan terakhir mulai terlupakan menjelang kepulangan putranya.
"Saya tidak sabar bertemu dengannya, dan dia juga bersemangat. Dia sudah mengirim pesan teks kepada saya, dan kata pertamanya adalah: 'Daratan!' Jadi, kami sangat gembira," katanya.
Hegseth Puji Misi USS Abraham Lincoln
Kepulangan kapal induk tersebut terjadi sehari setelah Menteri Perang AS Pete Hegseth naik ke kapal itu untuk memberikan ucapan selamat kepada para awak atas misi mereka.
"Apa yang dilakukan kelompok tempur kapal induk USS Abraham Lincoln belum pernah dilakukan oleh kelompok tempur kapal induk mana pun sebelumnya," kata Hegseth kepada para pelaut.
"Sepuluh ribu sorti penerbangan, 23.000 jam penerbangan tempur, dan hampir 4.000 sorti tempur," ujarnya.
Hegseth kemudian mengumumkan pemberian Presidential Unit Citation kepada kelompok tempur kapal induk tersebut sebagai penghargaan atas "kepahlawanan luar biasa dalam menghadapi pasukan musuh".
Penghargaan itu diberikan di tengah berakhirnya pengerahan panjang USS Abraham Lincoln, yang tidak hanya menjadi bagian penting dari operasi militer AS terhadap Iran, tetapi juga memunculkan kekhawatiran mengenai kondisi psikologis dan kesejahteraan para personel yang bertugas di dalamnya.
(mas)