Layar digital di Atakule menampilkan konten kampanye yang menyoroti Perjanjian Pertahanan Bersama Mekkah serta bendera Turki, Arab Saudi, dan Pakistan, pada 10 Agustus 2026 di Ankara, Turki. Foto/Güven Y?lmaz/Anadolu Agency
SANAA - Hizam Al-Asad, anggota biro politik gerakan Houthi Yaman, mengatakan kelompoknya berharap Pakistan dan Turki tidak akan ikut serta dalam operasi militer melawan mereka bersama Arab Saudi. Pernyataan itu muncul seiring perang yang semakin memanas antara Houthi dan pasukan yang didukung Arab Saudi.
"Kami berharap pemerintah Pakistan dan Turki tidak berpartisipasi dalam agresi oleh musuh Saudi serta pengepungan yang diberlakukan terhadap negara kami—yang telah berlangsung selama lebih dari 11 tahun dan mengakibatkan puluhan ribu korban jiwa," ujarnya kepada kantor berita Rusia, RIA Novosti.
Pada hari Senin, berdasarkan Pakta Pertahanan Makkah, Turki dan Pakistan memutuskan melangkah menuju implementasi praktis dari komitmen pertahanan bersama mereka serta memastikan pengerahan cepat pasukan dan aset militer ke Arab Saudi.
Kembalinya pertempuran di Yaman dalam operasi militer "Dawn of Yemen" menandai titik balik berbahaya yang mengancam akan merusak upaya de-eskalasi yang rapuh dan membuat kawasan tersebut menghadapi skenario yang tidak menentu.
Seiring langkah Pakta Pertahanan Makkah menuju implementasi praktis untuk memperkuat pertahanan Arab Saudi dengan dukungan dari Turki dan Pakistan, pihak Houthi segera merespons dengan meningkatkan serangan rudal dan pesawat nirawak (drone) yang menyasar wilayah pedalaman kerajaan serta infrastruktur vital.
(sya)