Pasukan IRGC berpatroli di Selat Hormuz. Foto/mehr
TEHERAN - Iran mengancam akan menutup apa yang mereka sebut sebagai lalu lintas "ilegal" melalui Selat Hormuz. Teheran menegaskan, mereka memegang kendali penuh atas jalur tersebut meskipun ada klaim sebaliknya dari Amerika Serikat.
Jalur perairan ini merupakan salah satu rute energi terpenting di dunia, yang biasanya mengangkut sekitar seperlima dari pengiriman minyak dan gas alam cair global.
Lalu lintas melalui selat ini sangat terganggu sejak perang AS-Israel melawan Iran dimulai pada akhir Februari, yang memicu kenaikan harga energi.
Minyak mentah Brent diperdagangkan di kisaran USD101 per barel pada hari Rabu, dibandingkan dengan sekitar USD72 sebelum konflik terjadi.
Mohammad Reza Naqdi, komandan senior Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) sekaligus penasihat Pemimpin Tertinggi Iran, mengatakan pada hari Rabu bahwa beberapa rute transit melalui selat tersebut di sepanjang pantai Oman akan segera ditutup.
Naqdi mengatakan rute-rute tersebut dibuat dengan cara meledakkan dan merusak jalur berbatu, serta digunakan oleh kapal-kapal kecil untuk mengangkut minyak melalui perairan tersebut sebelum memindahkannya ke kapal tanker.
Ia menyebut pengiriman itu sebagai tindakan "penyelundupan" dan berpendapat volumenya terlalu kecil untuk menunjukkan lalu lintas melalui Hormuz telah kembali normal.
"Selat Hormuz ditutup, dan angkatan bersenjata Republik Islam Iran memegang kendali penuh atas selat tersebut," ujar Naqdi, seraya menambahkan pembatasan akan tetap berlaku sampai "tuntutan sah" Teheran dipenuhi.
Iran sebelumnya telah menawarkan untuk membuka kembali selat tersebut jika Washington melonggarkan tekanan militer dan mencabut blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio memberikan penilaian yang sangat berbeda pada hari Rabu, dengan menyatakan selat tersebut "terbuka" dan Iran telah "kehilangan kendali penuh" atas Hormuz.
"Volume minyak yang mengalir keluar saat ini hampir sama besarnya dengan sebelum konflik ini dimulai," kata Rubio kepada para wartawan.
Presiden Donald Trump juga mengatakan militer AS membantu pengiriman minyak melewati selat tersebut, dengan mengklaim aliran harian telah meningkat hingga lebih dari 20 juta barel.
Ia mengaitkan kelangkaan solar global terutama dengan serangan Ukraina terhadap kilang minyak Rusia—bukan konflik Timur Tengah—dan mendesak Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky untuk menghentikan serangan-serangan tersebut.
Ekspor minyak mentah kawasan ini telah kembali meningkat secara signifikan. Menurut data sementara dari Kpler yang dikutip oleh Reuters, rata-rata bergerak tujuh hari mencapai 18,3 juta barel per hari pada tanggal 30 September. Angka tersebut mencakup minyak yang dikirim melalui jalur selain Selat Hormuz.
Risiko keamanan di selat tersebut masih tergolong tinggi. Menurut otoritas India, satu kapal tanker berbendera Panama bernama On Peace terkena proyektil di dekat Oman pada hari Selasa, yang mengakibatkan 12 awak kapal terluka.
Belum ada pihak yang mengaku bertanggung jawab atas insiden tersebut.
(sya)