Reptil Purba Mirip Buaya Ditemukan di Batuan yang Digunakan untuk Bangun Sphinx Agung Mesir

img-redaksi Syarifudin
Kamis, 08 Oktober 2026 - 18:03 WIB
Reptil Purba Mirip Buaya Ditemukan di Batuan yang Digunakan untuk Bangun Sphinx Agung Mesir
Piramida dan Sphinx Mesir pada 7 Oktober 2004. Foto/Dennis Jarvis/flickr
A
A
A
KAIRO - Fosil yang ditemukan dari formasi batu kapur yang sama dengan yang digunakan untuk membangun Sphinx Agung Mesir ternyata berasal dari spesies reptil purba mirip buaya yang telah punah dan hidup sekitar 45 juta tahun yang lalu. Kabar itu diungkap para peneliti pada hari Selasa (6/10/2026).

Hewan yang diberi nama Herugavialis cairensis ini pernah menghuni laut tropis dangkal yang dulunya menutupi wilayah yang kini menjadi Mesir bagian utara, menurut studi yang diterbitkan dalam jurnal Royal Society Open Science.

Sisa-sisa tubuh hewan tersebut berasal dari Formasi Mokattam, endapan batu kapur tebal yang juga mengandung fosil ikan, hiu, dan paus purba, menurut studi tersebut.

Studi itu menyebutkan batu yang ditambang dari formasi tersebut kemudian digunakan untuk membangun beberapa monumen paling terkenal di Mesir kuno, termasuk Sphinx Agung dan piramida Giza.

Spesimen utamanya—berupa tengkorak yang hampir utuh dan ditemukan pada tahun 1920-an—sebelumnya diklasifikasikan sebagai anggota Tomistoma, genus yang mencakup spesies false gharial (buaya senyulong) modern dari Asia Tenggara.

Para peneliti menggunakan pemindaian computed tomography (CT) untuk memeriksa anatomi internal tengkorak tersebut dan membandingkan lebih dari 300 karakteristiknya dengan karakteristik reptil mirip buaya yang masih hidup maupun yang telah punah.

Analisis mereka menemukan cukup banyak perbedaan untuk menempatkan hewan asal Mesir ini ke dalam genus yang terpisah.

Nama Herugavialis merupakan gabungan dari "Heru"—nama lain bagi dewa Mesir kuno Horus—dan istilah yang merujuk pada gharial. Nama spesies cairensis mencerminkan kaitannya dengan kota Kairo.

Bagian ujung moncong tengkorak tersebut juga hilang; satu kemiripan yang tidak disengaja dengan Sphinx Agung, yang dikenal luas karena tidak memiliki hidung.

"Mengingat adanya kebetulan terkait hilangnya bagian hidung Sphinx Agung yang terkenal itu, kami memutuskan untuk menamai buaya baru ini dengan nama dewa Mesir Heru, yang kemungkinan menjadi inspirasi bagi monumen ikonik tersebut," ujar salah satu pemimpin studi, Philip Mannion, dari University College London.

Gharial adalah jenis reptil mirip buaya yang memiliki ciri khas berupa moncong yang panjang dan ramping, menurut studi tersebut.

Hanya dua spesies yang masih bertahan hidup hingga saat ini: gharial India yang berstatus sangat terancam punah (critically endangered) dan false gharial yang berstatus terancam punah (endangered); keduanya ditemukan di wilayah Asia Selatan dan Asia Tenggara.

Namun, catatan fosil mereka menunjukkan kelompok buaya yang menyerupai gavial pernah memiliki sebaran geografis yang jauh lebih luas dan beberapa spesiesnya hidup di lingkungan laut.

Identifikasi Herugavialis cairensis menambah bukti bahwa beberapa spesies gavial pernah menghuni wilayah Mediterania selama puluhan juta tahun.

Para peneliti menyatakan temuan ini memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai sejarah evolusi kelompok tersebut yang kompleks.

(sya)
See original source
link link link link
Berita Terkait