Kisah semut dalam Surat An-Naml bukan sekadar cerita tentang kehidupan seekor hewan kecil. Ada banyak pelajaran yang dapat direnungkan manusia. Foto istimewa
Semut merupakan salah satu hewan kecil yang memiliki banyak keunikan. Meski ukurannya sangat kecil, kehidupan semut menyimpan pelajaran tentang kerja sama, kedisiplinan, kewaspadaan, dan kepedulian terhadap kelompok.
Keistimewaan semut bahkan diabadikan Allah Ta'ala dalam Al-Qur'an. Namanya menjadi salah satu nama surat, yakni Surat An-Naml, surat ke-27 dalam Al-Qur'an yang terdiri atas 93 ayat. Selain itu, semut termasuk salah satu hewan yang dilarang dibunuh tanpa alasan yang dibenarkan.
Dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu anhuma, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melarang membunuh empat jenis hewan, yaitu: "Semut, lebah, burung Hudhud, dan burung Shurad." (HR Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Ahmad)
Larangan tersebut menunjukkan bahwa Islam memberikan perhatian terhadap makhluk hidup, termasuk hewan yang berukuran kecil seperti semut.
Kisah Semut dalam Surat An-Naml
Nama An-Naml berarti semut. Penamaan tersebut berkaitan dengan kisah semut yang disebutkan secara khusus dalam ayat 18 dan 19.
Allah Ta'ala menceritakan perjalanan Nabi Sulaiman alaihissalam bersama bala tentaranya ketika melewati sebuah lembah yang dihuni oleh para semut.
Allah Ta'ala berfirman:
حَتّٰٓى اِذَاۤ اَتَوۡا عَلٰى وَادِ النَّمۡلِۙ قَالَتۡ نَمۡلَةٌ يّٰۤاَيُّهَا النَّمۡلُ ادۡخُلُوۡا مَسٰكِنَكُمۡۚ لَا يَحۡطِمَنَّكُمۡ سُلَيۡمٰنُ وَجُنُوۡدُهٗۙ وَهُمۡ لَا يَشۡعُرُوۡنَ
"Hingga apabila mereka sampai di lembah semut, berkatalah seekor semut, ‘Wahai semut-semut! Masuklah ke dalam sarang-sarangmu agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan bala tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari.'"
Kemudian Allah Ta'ala melanjutkan:
فَتَبَسَّمَ ضَاحِكًا مِّنۡ قَوۡلِهَا وَقَالَ رَبِّ اَوۡزِعۡنِىۡۤ اَنۡ اَشۡكُرَ نِعۡمَتَكَ الَّتِىۡۤ اَنۡعَمۡتَ عَلَىَّ وَعَلٰى وَالِدَىَّ وَاَنۡ اَعۡمَلَ صَالِحًـا تَرۡضٰٮهُ وَاَدۡخِلۡنِىۡ بِرَحۡمَتِكَ فِىۡ عِبَادِكَ الصّٰلِحِيۡنَ
"Maka, dia (Sulaiman) tersenyum lalu tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu. Dia berdoa, ‘Ya Tuhanku, anugerahkanlah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan agar aku mengerjakan kebajikan yang Engkau ridai. Masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh.'" (QS An-Naml: 18-19)
Kisah tersebut menggambarkan bagaimana seekor semut memperingatkan koloninya ketika melihat Nabi Sulaiman dan pasukannya datang.
Semut tersebut meminta semut-semut lainnya segera masuk ke sarang agar tidak terinjak tanpa sengaja oleh pasukan Nabi Sulaiman.
Nabi Sulaiman Tersenyum Mendengar Perkataan Semut
Nabi Sulaiman alaihissalam dikenal sebagai nabi yang mendapat berbagai keistimewaan dari Allah. Salah satunya adalah kemampuan memahami bahasa makhluk, termasuk hewan.
Ketika mendengar perkataan semut tersebut, Nabi Sulaiman tersenyum dan tertawa. Namun, yang menarik, beliau tidak menyombongkan nikmat yang dimilikinya.
Sebaliknya, Nabi Sulaiman langsung memanjatkan doa kepada Allah agar diberikan kemampuan untuk senantiasa bersyukur atas nikmat yang telah diberikan kepadanya dan kedua orang tuanya.
Doa tersebut juga menunjukkan bahwa kenikmatan berupa kekuasaan, ilmu, kekayaan, dan kemampuan memahami makhluk lain seharusnya mendorong seseorang untuk semakin dekat kepada Allah.
Pelajaran dari Kehidupan Semut
Semut dikenal sebagai hewan yang hidup secara berkelompok. Mereka membangun sarang, mencari makanan, serta bekerja sama untuk mempertahankan kehidupan koloninya.
Kehidupan semut menunjukkan keteraturan dan kerja sama yang menarik. Setiap semut menjalankan perannya masing-masing demi kepentingan bersama.
Dalam kisah yang disebutkan Al-Qur'an, semut juga menunjukkan sikap waspada. Ketika melihat bahaya yang mungkin mengancam kelompoknya, seekor semut segera memberikan peringatan kepada semut lainnya.
Hal ini dapat menjadi pelajaran bagi manusia untuk membangun kepedulian terhadap lingkungan sosial. Kepentingan pribadi tidak semestinya mengalahkan kemaslahatan bersama.
Hikmah dari Kisah Semut
Kisah semut dalam Surat An-Naml bukan sekadar cerita tentang kehidupan seekor hewan kecil. Ada banyak pelajaran yang dapat direnungkan manusia.
Di antaranya adalah pentingnya kerja sama, kepedulian, kewaspadaan, kedisiplinan, dan tanggung jawab terhadap lingkungan sekitar.
Semut yang berukuran kecil saja memiliki keteraturan dalam kehidupannya. Manusia yang dianugerahi akal dan kemampuan berpikir tentu seharusnya mampu mengambil pelajaran yang lebih besar dari fenomena tersebut.
Kisah Nabi Sulaiman dan semut juga mengajarkan bahwa nikmat tidak seharusnya melahirkan kesombongan. Sebaliknya, semakin besar nikmat yang diberikan Allah, semakin kuat pula rasa syukur yang seharusnya dimiliki.
Itulah salah satu keistimewaan semut yang diabadikan dalam Al-Qur'an. Dari makhluk kecil ini, manusia dapat belajar tentang kepedulian, kerja sama, keteraturan, hingga pentingnya mensyukuri nikmat Allah Ta'ala.
(wid)