Christa Gail Pike, terpidana mati asal Tennessee, AS, telah dua kali dieksekusi tapi tak kunjung mati. Dia akhirnya dibawa ke rumah sakit. Foto/X @dhaevian
WASHINGTON -
Christa Pike (50), seorang terpidana mati di Amerika Serikat (AS) yang masih hidup setelah dua kali disuntik mati, sekarang terbangun atau sadar dari situasi kritis di rumah sakit. Dia sadar ketika alat bantu hidupnya nyaris dicabut.
Kondisi terpidana perempuan itu disampaikan pengacaranya pada Rabu waktu AS, ketika pengadilan memerintahkan otoritas penjara untuk mengamankan seluruh bukti terkait kasus kegagalan eksekusinya.
Pike (50) dijatuhi hukuman mati atas pembunuhan yang dilakukannya ketika masih remaja. Dia menerima dua dosis obat pentobarbital yang seharusnya mematikan di sebuah penjara Tennessee pada Rabu pekan lalu.
Namun, Pike selamat dari dua suntikan tersebut. Dia kemudian dilarikan ke rumah sakit dalam kondisi kritis dan selama beberapa hari tidak sadarkan diri serta menggunakan ventilator.
"Pada Senin malam, berdasarkan pemahaman kami, Christa telah dinyatakan mati otak dan alat bantu hidup akan dilepas pada hari berikutnya," kata pengacaranya, Randy Spivey, kepada wartawan, yang dikutip
AFP, Kamis (8/10/2026).
"Namun pada Selasa, yang mengejutkan semua orang...Christa sadar dan mulai berbicara."
Menurut para pengacaranya, Pike masih dalam kondisi diborgol di ranjang rumah sakit. Dia sudah sadar dan dapat berbicara sedikit, tetapi tidak mampu menelan atau menggerakkan kedua lengannya.
"Dia tidak dapat menggerakkan kedua lengannya. Kedua lengan dan tangannya mengalami pembengkakan yang sangat parah, dan kami tidak tahu apakah dia akan mendapatkan kembali fungsi apa pun pada lengannya," kata Spivey.
Dia menambahkan, "Perjalanan pemulihannya masih panjang."
"Staf medis telah meminta agar borgolnya dilepas, tetapi permintaan tersebut ditolak," kata pengacara Pike lainnya, Luke Ihnen, dalam persidangan.
Seorang ahli anestesi yang disewa pengacara Pike sebagai pakar menjelang pelaksanaan eksekusinya mengatakan kepada BBC bahwa Pike sudah tidak lagi menggunakan ventilator.
"Saya yakin dia tidak memiliki ingatan mengenai upaya eksekusi tersebut," kata Joel Zivot. Dia menambahkan bahwa Pike masih mengetahui namanya, tetapi mengira saat ini masih bulan September.
"Kita harus bertanya, seberapa besar penderitaan yang sudah cukup? Kami terus meminta (Gubernur Tennessee Bill Lee) untuk mengubah hukuman mati Christa menjadi hukuman penjara seumur hidup," kata Spivey.
Pengadilan memerintahkan pejabat lembaga pemasyarakatan negara bagian untuk mengamankan seluruh bukti yang berkaitan dengan eksekusi yang gagal tersebut, termasuk perlengkapan medis, limbah medis, serta rekaman audio dan video.
Kasus Pike kembali memicu perdebatan mengenai hukuman mati di Amerika Serikat.
Lee menangguhkan pelaksanaan eksekusi mati di Tennessee sambil menunggu penyelidikan independen, sementara kepala lembaga pemasyarakatan negara bagian tersebut mengundurkan diri. Departemen Pemasyarakatan Tennessee tetap menyatakan bahwa pihaknya telah mengikuti prosedur yang ditetapkan.
Negara bagian Texas dijadwalkan melaksanakan eksekusi mati pada Rabu malam waktu setempat, yang akan menjadi eksekusi pertama di AS sejak upaya eksekusi terhadap Pike.
Jamaal Howard dijadwalkan dieksekusi dengan suntikan mematikan karena membunuh seorang pegawai toko dalam perampokan pada 2000.
Para pengacaranya telah berupaya agar eksekusinya ditunda dengan mengacu pada kasus Pike.
Orang Pertama yang Selamat meski Sudah Dieksekusi
Death Penalty Information Center, lembaga yang menerbitkan data dan analisis mengenai hukuman mati di AS, mengatakan Pike merupakan terpidana mati pertama yang diketahui selamat setelah disuntik dengan dosis obat yang seharusnya mematikan untuk eksekusi.
Pike berusia 18 tahun ketika dia dan pacarnya memukuli dan membunuh Colleen Slemmer (19) di sebuah kamp pelatihan kerja.
Menurut Death Penalty Information Center, Pike seharusnya menjadi perempuan pertama yang dieksekusi oleh negara bagian Tennessee dalam lebih dari 200 tahun.
Tidak termasuk upaya eksekusi terhadap Pike yang gagal, sebanyak 29 eksekusi telah dilakukan di Amerika Serikat sepanjang tahun ini. Seluruhnya dilakukan dengan metode suntikan mematikan.
Hukuman mati telah dihapuskan di 23 dari 50 negara bagian AS. Sementara itu, tiga negara bagian lainnya—California, Oregon, dan Pennsylvania—memberlakukan moratorium terhadap pelaksanaan eksekusi.
Pentagon pada Senin mengatakan Presiden Donald Trump telah menyetujui eksekusi Nidal Hasan, seorang psikiater Angkatan Darat AS yang menembak mati 13 orang dan melukai lebih dari dua lusin lainnya di pangkalan militer Fort Hood, Texas, pada 2009.
Eksekusi Hasan dengan regu tembak dijadwalkan berlangsung pada 3 Desember. Jika terlaksana, eksekusi tersebut akan menjadi yang pertama dilakukan oleh militer AS sejak 1961.
(mas)