Houthi Serang 2 Bandara Arab Saudi, 3 Orang Tewas, 36 Luka

img-redaksi Muhaimin
Kamis, 08 Oktober 2026 - 07:51 WIB
Houthi Serang 2 Bandara Arab Saudi, 3 Orang Tewas, 36 Luka
Kelompok Houthi Yaman serang dua bandara internasional di Arab Saudi pada 6 dan 7 Oktober 2026. Tiga orang tewas dan 36 lainnya terluka. Foto/Anadolu
A
A
A
RIYADH - Kelompok pemberontak Houthi Yaman telah menyerang dua bandara di Arab Saudi pada Selasa dan Rabu. Serangan ini menyebabkan tiga orang tewas dan 36 lainnya terluka.

Otoritas Umum Penerbangan Sipil Arab Saudi (GACA) mengumumkan data jumlah korban tersebut pada Rabu, ketika konflik di Yaman semakin meluas hingga menyeberangi perbatasan ke wilayah kerajaan.

Dalam sebuah pernyataan, GACA mengatakan Bandara Internasional Abha yang berada dekat perbatasan Yaman dan Bandara Internasional King Khalid di Riyadh menjadi sasaran serangan pada 6 dan 7 Oktober.

Serangan tersebut memicu peringatan keamanan dari Misi Amerika Serikat (AS) di Arab Saudi. Misi tersebut memperingatkan warga negara AS mengenai kemungkinan serangan drone dan rudal serta mengingatkan bahwa konflik dapat meningkat.

"Kelompok Houthi telah melakukan permusuhan terhadap Arab Saudi, termasuk terhadap bandara-bandara sipil, dan konflik militer berpotensi meningkat," kata misi tersebut, yang dikutip CNN, Kamis (8/10/2026).

"Warga negara AS harus mewaspadai kemungkinan pembatalan penerbangan, penutupan wilayah udara, dan gangguan perjalanan," lanjut misi tersebut.

Houthi merupakan kelompok bersenjata yang didukung Iran dan menguasai sebagian besar wilayah Yaman utara, termasuk ibu kota Sanaa. Kelompok tersebut telah berperang melawan pemerintah Yaman yang diakui secara internasional dan koalisi pimpinan Arab Saudi sejak 2015.

Konflik kembali berkobar pada Juli 2026, tak lama setelah gencatan senjata AS-Iran runtuh. Houthi melancarkan serangan rudal terhadap fasilitas minyak dan kapal tanker Arab Saudi sebagai bagian dari meluasnya perang di Timur Tengah. Riyadh merespons dengan serangan udara untuk mendukung pasukan pemerintah Yaman.

Menurut GACA, serangan terhadap Bandara Internasional Abha pada Selasa menewaskan dua perempuan, masing-masing warga negara Maroko dan Aljazair, serta melukai 28 orang lainnya. Korban luka mencakup warga Arab Saudi serta warga Bangladesh dan Filipina yang tinggal di Arab Saudi.

Serangan terpisah terhadap Bandara Internasional King Khalid di ibu kota Riyadh pada Rabu menewaskan seorang warga Sudan dan melukai delapan orang, termasuk lima warga Arab Saudi, dua warga Mesir, dan seorang warga Pakistan.

Angkatan bersenjata yang dikendalikan Houthi mengaku bertanggung jawab atas kedua serangan tersebut. Kelompok itu mengatakan telah menargetkan Bandara Internasional King Khalid dengan rudal balistik dan mengeklaim serangan tersebut mengganggu lalu lintas udara di Riyadh.

Juru bicara militer Arab Saudi, Mayor Jenderal Turki al-Maliki, mengatakan pasukan Saudi telah menghancurkan peluncur rudal balistik yang digunakan dalam serangan terhadap Riyadh.

Dalam unggahan di X, al-Maliki mengatakan peluncur tersebut dihancurkan di Sanaa. "Ketika sedang dipersiapkan untuk serangan lain yang akan segera dilakukan terhadap Arab Saudi," katanya.

Sehari sebelumnya, Houthi mengatakan telah melancarkan serangan rudal balistik terhadap Bandara Internasional Abha dan juga mengeklaim serangan tersebut mengganggu operasional bandara.

Kelompok tersebut juga kembali memperingatkan maskapai penerbangan internasional agar tidak mengoperasikan penerbangan melalui wilayah udara Arab Saudi. Houthi mengatakan wilayah udara tersebut telah menjadi "arena operasi militer kami", tetapi mengecualikan wilayah udara di sekitar kota suci Makkah dan Madinah.

Otoritas Arab Saudi belum segera memberikan komentar mengenai klaim Houthi tersebut.

Serangan tersebut terjadi ketika pasukan pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi terus menjalankan Operasi "Dawn of Yemen", sebuah ofensif besar yang bertujuan merebut kembali wilayah yang baru-baru ini dikuasai Houthi yang didukung Iran.

Eskalasi konflik juga mendorong Arab Saudi memperkuat kerja sama pertahanan dengan sekutu regional. Awal pekan ini, Arab Saudi, Turki, dan Pakistan sepakat melanjutkan penerapan langkah-langkah pertahanan kolektif berdasarkan Perjanjian Pertahanan Bersama Makkah, yang sering disebut sebagai Aliansi Makkah.

Dalam pernyataan bersama setelah pertemuan darurat di Riyadh, ketiga negara mengatakan akan segera menerapkan komitmen pertahanan kolektif serta memastikan pengerahan cepat pasukan dan kemampuan militer ke Arab Saudi.

Militer Pakistan mengonfirmasi kepada CNN pada Rabu bahwa pasukan Pakistan sudah ditempatkan di Arab Saudi sebagai bagian dari aliansi tersebut.

Petinggi militer Pakistan, Letnan Jenderal Ahmed Sharif Chaudhry, mengatakan komitmen Pakistan terhadap keamanan Arab Saudi bersifat "mutlak" dan menggambarkan aliansi tersebut sebagai mekanisme pertahanan dan penangkalan kolektif.

Dia menambahkan bahwa pakta tersebut mencakup ketentuan bergaya NATO, di mana serangan terhadap satu anggota akan dianggap sebagai serangan terhadap seluruh anggota.

Amerika Serikat juga meningkatkan dukungannya terhadap kampanye Arab Saudi. Lebih dari 100 penasihat militer AS saat ini berada di Arab Saudi untuk memberikan dukungan intelijen dan penentuan target bagi operasi militer kerajaan terhadap Houthi yang didukung Iran, menurut laporan CNN bulan lalu yang mengutip sejumlah sumber yang mengetahui upaya tersebut.

Bantuan tersebut diberikan ketika pertempuran semakin intensif di Semenanjung Arab dan memunculkan kekhawatiran bahwa konflik dapat kembali meluas. Perkembangan itu berpotensi mengancam koridor maritim utama kedua di Timur Tengah selain Laut Merah.

Dalam beberapa hari terakhir, pasukan pemerintah Yaman mengeklaim mengalami kemajuan di dekat Selat Bab al-Mandeb yang strategis, di sepanjang pesisir Laut Merah Yaman. Houthi merespons dengan serangan rudal dan drone terhadap sasaran-sasaran di dalam wilayah Arab Saudi.

Serangan terhadap bandara di Arab Saudi bagian selatan maupun ibu kota menunjukkan bahwa konflik semakin berdampak langsung terhadap wilayah Saudi, seiring Riyadh memperdalam dukungannya terhadap kampanye militer pemerintah Yaman.

Dengan infrastruktur sipil kini kembali menjadi sasaran serangan, permusuhan tersebut menunjukkan tanda-tanda meluas melampaui medan perang di Yaman dan menjadi tantangan yang semakin besar bagi keamanan serta jaringan transportasi Arab Saudi.

Aktivasi Aliansi Makkah dan konfirmasi bahwa pasukan Pakistan sudah dikerahkan di kerajaan menunjukkan bahwa Arab Saudi dan sekutunya sedang mempersiapkan kemungkinan konfrontasi keamanan regional yang lebih luas.
(mas)
See original source
link link link link
Berita Terkait
Houthi Serang 2 Bandara Arab Saudi, 3 Orang Tewas, 36 Luka
International
Kamis, 08 Oktober 2026 - 07:51 WIB