Video Baru Ungkap Serangan Iran Bikin Pangkalan Kuwait Hancur Lebur, Pasukan AS Kocar-kacir

img-redaksi Muhaimin
Kamis, 08 Oktober 2026 - 06:56 WIB
Video Baru Ungkap Serangan Iran Bikin Pangkalan Kuwait Hancur Lebur, Pasukan AS Kocar-kacir
Camp Buehring, pangkalan militer di Kuwait yang jadi markas pasukan utama Angkatan Darat AS, hancur lebur akibat serangan Iran. Foto/YouTube/CBS News
A
A
A
KUWAIT CITY - Fakta baru telah menunjukkan serangan Iran yang sangat efektif di Camp Buehring, pangkalan militer yang jadi markas pasukan utama Angkatan Darat Amerika Serikat (AS). Rekaman video dan kesaksian sejumlah personel militer Amerika memamparkan serangan itu memaksa pasukan Amerika Serikat meninggalkan pangkalan tersebut.

CBS News telah merilis rekaman video tersebut dan juga kesaksian para personel militer Amerika. Serangan Teheran itu terjadi pada awal perang AS-Israel melawan Iran.

Video yang dibagikan oleh tentara AS, yang melanggar kebijakan ketat Pentagon mengenai media, memperlihatkan sejumlah drone menukik menghantam Camp Buehring yang berjarak sekitar 40 kilometer dari perbatasan Irak. Rekaman tersebut juga menunjukkan kerusakan pada bangunan dan peralatan militer.

CBS News pada Rabu (7/10/2026) melaporkan bahwa pihaknya telah mengautentikasi rekaman tersebut menggunakan metadata yang tertanam serta gambar kondisi setelah serangan.

Pangkalan tersebut berulang kali menjadi sasaran rudal balistik dan drone Iran setelah permusuhan dimulai pada 28 Februari. Seorang personel militer AS juga mengatakan kepada CBS News bahwa jet tempur F-5 Iran menjalankan misi serangan terhadap pangkalan tersebut.

"Begitu dekat dengan kami sampai-sampai saya bisa melihat helm mereka," katanya.

Sebagian besar dari sekitar 7.000 tentara yang ditempatkan di Camp Buehring sebenarnya telah disebar ke lokasi lain sebelum perang. Pentagon menyebut strategi tersebut sebagai "get off the X", yang bertujuan memindahkan personel dari posisi-posisi tetap yang rentan terhadap serangan balasan Iran.

Namun, sekitar 100 tentara tetap berada di pangkalan untuk mempertahankan instalasi tersebut. Mereka berulang kali terpaksa berlindung di bunker dan mengalami kekurangan amunisi kritis, termasuk rudal pencegat Patriot.

"Mereka menghantam kami dengan parah," ujar seorang personel militer kepada CBS News. "Itu mengerikan... Kami harus meninggalkan pangkalan."

Pasukan yang tersisa akhirnya meninggalkan pangkalan tersebut dan mendirikan pos-pos operasi terdepan sementara di gurun Kuwait. Mereka bertahan di lokasi tersebut selama berminggu-minggu.

Tidak ada personel AS yang tewas dalam serangan terhadap Camp Buehring, meskipun beberapa orang terluka. Dua di antaranya tersambar petir saat terjadi badai pasir di gurun.

"CBKU [Camp Buehring, Kuwait] hancur lebur," kata personel militer tersebut. "Mereka perlu melakukan investigasi. Mengapa tidak ada yang datang untuk memperkuat kami?"

Pentagon menolak memberikan komentar langsung mengenai laporan CBS News tersebut. Pentagon justru merujuk CBS News pada pernyataan Menteri Perang Pete Hegseth pada Maret, ketika dia mengakui bahwa lebih dari 90 persen personel Amerika telah dipindahkan dari pangkalan-pangkalan AS di kawasan tersebut.

Pengungkapan ini muncul beberapa hari setelah investigasi Associated Press memunculkan pertanyaan terpisah mengenai kesiapan AS di lokasi lain di Kuwait.

Sebuah drone Iran menghantam pusat operasi Amerika di Pelabuhan Shuaiba pada 1 Maret. Serangan itu menewaskan enam tentara dan melukai puluhan lainnya, sehingga menjadi serangan tunggal yang diketahui paling mematikan terhadap pasukan AS selama konflik tersebut.

Sejumlah korban luka mengatakan para tentara pada awalnya saling memberikan pertolongan menggunakan perlengkapan pertolongan pertama yang tersedia. Mereka bahkan harus menggunakan Google untuk menemukan rumah sakit terdekat di Kuwait City. Pentagon tetap menyatakan bahwa respons medis dalam insiden tersebut sudah sesuai.

Kerusakan di Camp Buehring merupakan bagian dari kampanye yang jauh lebih luas terhadap kehadiran militer AS di seluruh Timur Tengah. Rudal dan drone Iran menghantam pangkalan serta instalasi militer di sejumlah negara, merusak pesawat, sistem radar, hanggar, barak, dan berbagai infrastruktur lainnya.

Hingga September, Komando Pusat AS (CENTCOM) mengatakan perang tersebut telah menelan biaya Washington sebesar USD43,6 miliar. Angka tersebut belum mencakup kerusakan besar pada pangkalan-pangkalan AS di delapan negara.

Jumlah korban personel militer AS juga masih menjadi perdebatan. Pentagon secara terbuka mencatat 18 personel militer tewas hingga pertengahan September. Namun, sumber-sumber militer yang dikutip The Washington Post menyebut jumlah korban tewas mencapai 22 atau 23 orang.

Seiring meningkatnya kerusakan, Pentagon memperketat pengawasan terhadap gambar-gambar yang muncul dari kawasan tersebut.

Setelah serangan rudal dan drone Iran menghantam Pangkalan Udara Muwaffaq Salti di Yordania pada 17 Juli dan menewaskan tiga personel militer AS, Komandan CENTCOM Laksamana Brad Cooper memperingatkan para tentara agar tidak merekam lokasi serangan.

Menurut Cooper, rekaman yang diunggah ke publik membantu Teheran menilai tingkat akurasi dan dampak serangan mereka.

Sekutu AS yang menjadi tuan rumah pangkalan-pangkalan militer Amerika juga memberlakukan larangan dan sanksi ketat terhadap perekaman fasilitas militer serta lokasi setelah serangan. Akibatnya, rekaman independen mengenai serangan Iran semakin jarang ditemukan.
(mas)
See original source
link link link link
Berita Terkait
Houthi Serang 2 Bandara Arab Saudi, 3 Orang Tewas, 36 Luka
International
Kamis, 08 Oktober 2026 - 07:51 WIB