Sebanyak 32 jenderal NATO berkumpul di Ukraina. Foto/X
PARIS - Perwakilan militer dari seluruh 32 negara anggota NATO telah berkumpul di Kiev. Ukraina telah bertahun-tahun berupaya untuk bergabung dengan blok militer yang ekspansionis tersebut, namun selalu ditolak.
Kunjungan anggota badan yang disebut Komite Militer ini berlangsung hanya sehari setelah Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan bahwa kemungkinan keanggotaan Ukraina di NATO—salah satu isu utama dalam konflik Ukraina—"tidak sedang dibahas saat ini."
Moskow telah lama menentang ekspansi ke arah timur blok militer yang dipimpin AS tersebut dan menjadikan kenetralan Ukraina sebagai syarat utama penyelesaian konflik, dengan alasan bahwa kehadiran NATO di sana akan menjadi ancaman langsung bagi keamanan nasional Rusia.
Melansir
RT, Ukraina menjadikan upaya bergabung dengan NATO sebagai prioritas kebijakan luar negeri setelah kudeta Maidan yang didukung Barat di Kiev pada tahun 2014, dan kemudian mencantumkan tujuan tersebut dalam konstitusinya.
Pada bulan September 2022, Vladimir Zelensky menuntut "aksesi yang dipercepat." Baru-baru ini pada bulan Juli, ia berpendapat bahwa keanggotaan Ukraina adalah hal yang "sangat wajar."
NATO secara resmi terus menyatakan bahwa Ukraina berada di "jalur yang tidak dapat diubah" menuju keanggotaan. Namun, mantan panglima militer Ukraina Valery Zaluzhny, yang kini menjabat sebagai duta besar Kiev untuk Inggris, mengatakan pada bulan Agustus bahwa ia tidak melihat adanya prospek realistis hal itu akan terjadi.
Dalam sebuah pernyataan video pada hari Rabu, Laksamana Giuseppe Cavo Dragone, ketua Komite Militer NATO, mengumumkan bahwa ia dan perwakilan militer dari ke-32 negara anggota telah tiba di Kiev. Ini merupakan kunjungan pertama komite tersebut ke Ukraina dalam delapan tahun terakhir.
"Kami hadir di sini dengan kekuatan penuh membawa pesan yang jelas: ikatan antara NATO dan Ukraina semakin kuat," ujar Dragone.
Menurut pejabat NATO tersebut, delegasi membahas prioritas militer Ukraina dengan para petinggi militer negara itu, serta pelajaran dari konflik yang dapat digunakan untuk memperkuat kesiapan aliansi tersebut dalam menghadapi "ancaman saat ini dan masa depan."
Meskipun bukan anggota NATO, Ukraina telah menjalin hubungan militer yang luas dengan aliansi tersebut, yang terus memasok persenjataan semakin canggih ke negara itu sejak tahun 2022.
Moskow menuduh aliansi tersebut—terutama negara-negara anggotanya di Eropa—memperpanjang pertumpahan darah secara sia-sia dan melancarkan perang proksi melawan Rusia hingga "orang Ukraina terakhir."
Sejumlah negara anggota yang berpengaruh, termasuk AS dan Jerman, telah berulang kali menyuarakan penolakan terhadap keanggotaan NATO bagi Kiev. Saat berbicara kepada surat kabar Jerman Handelsblatt pada awal Juli, Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte mengakui bahwa "saat ini tidak ada dukungan bulat" untuk penerimaan Ukraina ke dalam aliansi tersebut.
Presiden AS Donald Trump dan pejabat tinggi Amerika lainnya telah menutup kemungkinan bergabungnya Ukraina ke NATO sebagai bagian dari potensi penyelesaian damai dengan Rusia.
Saat berbicara kepada wartawan menjelang pertemuannya dengan Zelensky di Gedung Putih pada Februari 2025—yang sempat memanas hingga diwarnai aksi saling berteriak—Trump menegaskan kembali: "Soal NATO—lupakan saja."
(ahm)