Joe Biden Pernah Minta FBI Memata-matai Keluarga Trump

img-redaksi Andika Hendra Mustaqim
Rabu, 07 Oktober 2026 - 18:25 WIB
Joe Biden Pernah Minta FBI Memata-matai Keluarga Trump
Joe Biden pernah minta FBI untuk memata-matai keluarga Donald Trump. Foto/X/White House
A
A
A
WASHINGTON - Dokumen yang baru dibuka untuk umum mengungkapkan bahwa FBI melacak pergerakan istri dan putra remaja Donald Trump serta memantau kontak telepon salah satu ajudan terdekatnya selama penyelidikan terhadap Trump sebelum ia kembali ke Gedung Putih.

Pengungkapan ini memperkuat tuduhan dari Gedung Putih bahwa pemerintahan Presiden AS saat itu, Joe Biden, menggunakan penegak hukum federal sebagai senjata untuk melawan rival politik utamanya.

Berkas-berkas tersebut memberikan informasi baru mengenai penyelidikan FBI dengan kode sandi "Plasmic Echo," yang memeriksa penanganan dokumen rahasia oleh Trump dan pada akhirnya berujung pada penggeledahan kediamannya di Mar-a-Lago pada tahun 2022.

Melansir RT, catatan perencanaan internal menunjukkan bahwa para agen berupaya mendapatkan informasi rinci mengenai perjalanan Trump, Melania, dan putra mereka, Barron, saat bersiap menggeledah properti di Florida tersebut.

Salah satu daftar tugas FBI menginstruksikan penyelidik untuk "memastikan pemahaman FBI mengenai perjalanan FPOTUS/FLOTUS/putra yang masih di bawah umur," termasuk jenis pesawat yang digunakan dan "linimasa spesifik." Pesan internal lainnya mengindikasikan bahwa surat perintah penggeledahan hanya akan dilaksanakan setelah Trump meninggalkan Mar-a-Lago.

Cakupan pengawasan tersebut kemudian meluas hingga menyasar Susie Wiles, yang saat itu merupakan salah satu penasihat terdekat Trump dan kini menjabat sebagai kepala staf Gedung Putih untuknya.

Antara Februari dan Mei 2023, penyelidik menggunakan sistem pen register dan trap-and-trace untuk memantau metadata yang terkait dengan telepon Wiles. Hal ini memungkinkan agen untuk melacak jumlah, waktu, dan durasi panggilan telepon yang melibatkan pengacara, penasihat kampanye, jurnalis, dan pihak lain di lingkaran dalam Trump.

Dalam satu kejadian, penyelidik meninjau aktivitas telepon Wiles tak lama setelah memeriksanya, tampaknya untuk mengetahui siapa yang ia hubungi setelah pertemuan tersebut. Agen juga mengirimkan permintaan penyimpanan data kepada Google, Microsoft, MSN, dan Yahoo untuk mendapatkan informasi terkait akun emailnya, serta memeriksa dukungan politik dan aktivitas media sosial dari sekutu-sekutu Trump.

Dokumen Gedung Putih yang baru dirilis juga menyebutkan bahwa agen meneliti dukungan politik, aktivitas media sosial, dan tindakan lain yang dilindungi konstitusi saat berupaya menentukan apakah Trump melanggar hukum dengan membawa dokumen rahasia ke Mar-a-Lago setelah tidak lagi menjabat.

"Operasi pengawasan Jack Smith merupakan penyalahgunaan kekuasaan pemerintah yang memalukan," ujar juru bicara Gedung Putih, Lauren Bis, kepada Fox News. "Memata-matai lawan politik adalah bentuk politisasi penegakan hukum, titik."

Penyelidikan tersebut dilakukan di bawah pemerintahan Biden dan diawasi oleh pejabat senior Departemen Kehakiman serta FBI. Trump dan sekutunya berulang kali menuduh mantan presiden tersebut mengubah badan-badan federal menjadi senjata politik—sebuah tuduhan yang dibantah oleh pemerintahan sebelumnya.

Trump pada akhirnya didakwa menyimpan materi rahasia secara ilegal dan menghalangi upaya pemulihannya, namun ia membantah melakukan kesalahan.

Seorang hakim federal membatalkan kasus tersebut pada Juli 2024 setelah memutuskan bahwa penasihat khusus Jack Smith diangkat secara tidak sah. Smith kemudian menghentikan penuntutan tersebut menyusul kemenangan Trump dalam pemilihan umum.
(ahm)
See original source
link link link link
Berita Terkait
Gedung Putih: Tak Ada Indikasi Iran Pindahkan Uranium sebelum Serangan AS
International
Jum'at, 27 Juni 2025 - 08:44 WIB
Israel Diduga Gunakan Amunisi Uranium Terkuras dalam Serangan di Iran
International
Kamis, 26 Juni 2025 - 21:30 WIB
CIA Yakin Program Nuklir Iran telah Rusak Parah akibat Serangan AS
International
Kamis, 26 Juni 2025 - 16:15 WIB