'NATO Islam' Aktifkan Pengerahan Pasukan usai Houthi Serang Arab Saudi

img-redaksi Muhaimin
Selasa, 06 Oktober 2026 - 07:10 WIB
NATO Islam Aktifkan Pengerahan Pasukan usai Houthi Serang Arab Saudi
Aliansi Pertahanan Bersama Makkah, yang dijuluki NATO Islam, aktifkan komitmen pertahanan kolektifnya dan memerintahkan pengerahan cepat kekuatan serta kemampuan militer ke Arab Saudi menyusul serangan Houthi Yaman. Foto/Mustafa Hatipoglu/Anadolu
A
A
A
RIYADH - Aliansi Makkah, yang dijuluki "NATO Islam", telah mengaktifkan komitmen pertahanan kolektifnya dan memerintahkan pengerahan cepat kekuatan serta kemampuan militer ke Arab Saudi. Langkah ini diambil setelah Kerajaan Arab Saudi diserang kelompok Houthi Yaman.

Arab Saudi, Turki, dan Pakistan mengambil keputusan tersebut dalam pertemuan darurat Aliansi Pertahanan Makkah di Riyadh pada hari Senin. Dalam pernyataan bersama, mereka mengecam upaya penargetan terhadap kota suci Islam; Makkah dan Madinah, serta serangan terhadap kota-kota Saudi dan infrastruktur sipil maupun ekonomi.

"Diputuskan untuk segera beralih ke pelaksanaan praktis komitmen pertahanan kolektif dan mengambil langkah-langkah untuk menyediakan kekuatan serta kemampuan militer yang telah disepakati, sekaligus memastikan pengerahan cepat pasukan ke Arab Saudi," bunyi pernyataan bersama aliansi tersebut.

Dinyatakan bahwa langkah ini bertujuan untuk meningkatkan kesiapan dan integrasi militer serta memperkuat kapasitas kolektif ketiga negara dalam menghadapi dan menangkal ancaman.

Aliansi Pertahanan Makkah dibentuk pada bulan Agustus berdasarkan kesepakatan yang menganggap serangan bersenjata terhadap salah satu anggota sebagai serangan terhadap ketiganya, yang mencerminkan prinsip pertahanan kolektif Pasal 5 NATO.

Perang saudara di Yaman telah meningkat tajam dalam beberapa minggu terakhir. Koalisi pimpinan Saudi yang mendukung pemerintah Yaman yang diakui secara internasional menyatakan pada hari Senin bahwa 100 jet tempur turut serta dalam Operasi Fajar Yaman (Operation Dawn of Yemen), memberikan perlindungan udara bagi pasukan darat.

Juru bicara koalisi, Mayor Jenderal Turki al-Maliki, mengatakan bahwa 324 target bernilai tinggi telah dihancurkan.

Kelompok Houthi, yang juga dikenal sebagai Ansar Allah, adalah kelompok bersenjata Syiah yang telah menguasai ibu kota Yaman, Sanaa, dan sebagian besar wilayah utara Yaman selama lebih dari satu dekade. Mereka menuduh Riyadh melancarkan serangan udara besar-besaran dan menghantam target-target sipil di Sanaa.

Pemerintah Yaman mengumumkan kampanye militer baru pada hari Minggu yang bertujuan merebut kembali seluruh wilayah yang dikuasai Houthi. Langkah ini diambil menyusul keberhasilan besar kelompok tersebut pada bulan September, ketika mereka merebut sebagian besar wilayah pesisir Laut Merah dan wilayah di sekitar Selat Bab el-Mandeb, sebuah jalur pelayaran vital.

Pasukan pemerintah menyatakan pada hari Senin bahwa mereka telah merebut kembali beberapa wilayah di sekitar selat tersebut, termasuk kota Dhubab yang terletak secara strategis di sepanjang selat itu. Namun, pihak Houthi membantah laporan mengenai kemajuan pasukan pemerintah tersebut.

Pertempuran yang kembali berkecamuk ini telah menewaskan ratusan kombatan dari kedua belah pihak dan memaksa lebih dari 145.000 orang meninggalkan rumah mereka sejak bulan September, menurut data PBB.

Arab Saudi pertama kali melakukan intervensi di Yaman pada tahun 2015 untuk mendukung pemerintah yang diakui secara internasional, setelah Houthi menggulingkan kekuasaan pemerintah tersebut dari Sanaa pada tahun sebelumnya. Pertempuran berskala besar sempat mereda secara signifikan menyusul gencatan senjata yang ditengahi PBB pada tahun 2022.

Pertempuran kembali meningkat bulan lalu. Houthi menuduh Riyadh menerapkan blokade ilegal terhadap Yaman, sementara Arab Saudi menyatakan bahwa kelompok tersebut telah meningkatkan serangan rudal, drone, dan serangan maritim terhadap wilayah kerajaan itu sendiri serta jalur pelayaran di Laut Merah.

Eskalasi ini terjadi di tengah situasi di mana Selat Hormuz masih tertutup bagi sebagian besar pelayaran dan perundingan antara AS dan Iran untuk mengakhiri konflik mengalami kebuntuan.

Beberapa sekutu Arab Saudi telah meningkatkan dukungan militer bagi kerajaan tersebut. Inggris telah sepakat untuk menyediakan layanan pengisian bahan bakar di udara bagi pesawat tempur Arab Saudi, sementara Prancis mengirimkan pasukan, radar, dan sistem pertahanan udara untuk membantu melindungi Yanbu, pusat minyak di Laut Merah.
(mas)
See original source
link link link link
Berita Terkait
Pakar Ini Yakin Israel Hadapi Krisis Eksistensial Terbesar dalam Sejarahnya
International
Sabtu, 24 Oktober 2026 - 21:11 WIB
2 Tentara Israel Tewas, Netanyahu: Kejutan Besar Menanti Otoritas Palestina
International
Sabtu, 24 Oktober 2026 - 19:42 WIB
8 Negara Sekutu AS Tolak Rencana Trump Serang Iran pada Akhir Pekan Ini
International
Sabtu, 24 Oktober 2026 - 15:15 WIB