Insiden Flydubai diduga terkait rencana pengeboman pangkalan militer AS di Inggris. Foto/X/@DailyIranNews
TEHERAN - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan media yang dekat dengannya berupaya mengaitkan insiden Flydubai hari ini dengan Iran, meskipun sejauh ini belum ada bukti kredibel yang menunjukkan adanya keterlibatan Iran.
Upaya ini muncul saat Netanyahu menghadapi pemilihan umum dengan tantangan untuk mengamankan mayoritas 61 kursi, sementara para pesaingnya juga tidak memiliki jalan mudah untuk membentuk pemerintahan. Dalam kebuntuan politik seperti itu, mengubah pemilihan umum menjadi isu keamanan dapat menggeser agenda politik Israel.
Apakah Insiden Flydubai Terkait Rencana Pengeboman Pangkalan Militer AS di Inggris?
1. Narasi Menyudutkan Iran
Mengaitkan insiden Flydubai dengan Iran bisa menjadi titik awal narasi semacam itu: pertama, membangun kasus keamanan yang menyudutkan Teheran, dan kemudian—jika ketegangan meningkat—mengalihkan kontestasi pemilu dari isu domestik ke arah konfrontasi militer.
Isu ini menjadi semakin signifikan jika dikaitkan dengan informasi yang kabarnya diterima oleh otoritas keamanan Iran mengenai dugaan skenario Mossad yang bertujuan menciptakan insiden dengan korban jiwa massal dan melimpahkan tanggung jawab kepada Republik Islam tersebut.
Menurut informasi tersebut, salah satu opsi yang kabarnya diajukan kepada kantor perdana menteri Israel melibatkan operasi yang menargetkan pesawat atau bandara di kawasan tersebut. Dalam skenario itu, tujuannya adalah menciptakan insiden besar dan memberikan dasar untuk menyalahkan Iran.
2. Bagian dari Operasi False Flag?
Dalam kerangka ini, tujuannya bukan sekadar menyebabkan insiden, melainkan berpotensi memanfaatkan korban sipil untuk membangun kasus politik dan membantu membentuk konsensus internasional yang menentang Teheran—sebuah pola yang dalam terminologi keamanan dikenal sebagai operasi "false flag".
Penerbangan Flydubai 1073 sedang dalam perjalanan dari Dubai menuju Tel Aviv ketika mengalami insiden di tengah penerbangan dan, setelah mengirimkan panggilan darurat, melakukan pendaratan darurat di Bandara Tabuk, Arab Saudi.
Flydubai menyatakan bahwa pesawat mengalami masalah selama penerbangan namun berhasil mendarat dengan selamat di Tabuk. Pihak bandara menyebutkan bahwa kapten dan kopilot dilarikan ke rumah sakit akibat luka-luka. Pesawat mengalami kerusakan pada bagian ekor saat pendaratan keras tersebut.
Namun, laporan dari dalam kabin memunculkan pertanyaan tambahan. Media Israel, mengutip salah satu penumpang, melaporkan bahwa penumpang mendengar jeritan dan melihat darah, sementara pilot terluka akibat serangan pisau. Penumpang tersebut mengatakan ada saat-saat di mana orang-orang khawatir mereka tidak akan selamat keluar dari pesawat.
Beberapa laporan juga menyebutkan adanya perkelahian antara sesama pilot yang menyebabkan pesawat kehilangan ketinggian sekitar 4.000 meter. Keterangan lain memunculkan kemungkinan adanya upaya pembajakan atau percobaan untuk menjatuhkan pesawat.
Sebelum mendarat di Tabuk, penerbangan tersebut dilaporkan sempat menghilang dari sistem pelacakan untuk beberapa waktu, yang memicu spekulasi mengenai pembajakan, gangguan teknis, atau insiden keamanan. Pesawat akhirnya mendarat di Tabuk dengan pengawalan jet tempur Arab Saudi.
Pada saat yang sama, muncul laporan mengenai sejumlah penerbangan penumpang yang dialihkan atau berputar-putar di atas Bandara Riyadh, sementara penerbangan Flydubai untuk sementara dialihkan ke bandara lain di wilayah pendudukan Israel.
Pihak Bandara Tabuk menyatakan bahwa penyelidikan khusus mengenai penyebab insiden telah dimulai dan mereka sedang berkoordinasi dengan Flydubai untuk mengatur transportasi bagi para penumpang.
3. Dari Insiden Penerbangan Menjadi Kasus Keamanan
Dalam situasi ini, upaya untuk mengaitkan insiden tersebut dengan Iran memiliki signifikansi politis.
Jika insiden serius yang melibatkan pesawat penumpang dikaitkan dengan Iran sebelum penyebab pastinya diketahui, masalah ini bisa melampaui ranah penerbangan dan berubah menjadi kasus keamanan yang menyudutkan Teheran—sesuatu yang kemudian dapat menciptakan tekanan politik dan berpotensi menjadi dasar bagi tindakan militer.
Dari sudut pandang ini, peringatan keamanan yang disampaikan Iran mengenai kemungkinan skenario "false flag" (operasi bendera palsu) menjadi semakin relevan jika dikaitkan dengan perkembangan terkini. Namun, penyelidikan atas insiden Flydubai masih berlangsung, dan belum ada bukti kredibel yang menunjukkan adanya keterlibatan Iran. Itamar Ben-Gvir, Menteri Keamanan Nasional Israel, memanfaatkan insiden Flydubai untuk menyerukan konfrontasi berkelanjutan dengan Iran dan berbagai front regional lainnya. Ia menegaskan, "Kita tidak boleh berhenti" dan harus terus melangkah hingga mencapai "kemenangan total" di Iran, Lebanon, Gaza, dan Tepi Barat. Pernyataannya—yang disampaikan bahkan sebelum duduk perkara insiden tersebut dipastikan sepenuhnya—menggambarkan betapa cepatnya insiden ini masuk ke dalam diskursus politik dan keamanan Israel yang lebih luas.
4. Dikaitkan Rencana Serangan Pangkalan AS di Inggris
Beberapa hari yang lalu, media Inggris juga melaporkan adanya serangan yang dilakukan oleh sejumlah anak muda terhadap pangkalan udara AS di Inggris, serta mengaitkan insiden tersebut dengan Iran.
Mohammad Mohammadi, seorang analis media, berpendapat bahwa insiden-insiden semacam itu, jika dilihat secara keseluruhan, dapat berkontribusi dalam membentuk opini publik agar menerima narasi keamanan yang melibatkan Iran.
Dari sudut pandang ini, unsur kesamaannya tidak serta-merta terletak pada sifat insiden itu sendiri, melainkan pada cara insiden tersebut disajikan: sebuah insiden terjadi, spekulasi keamanan muncul, dan kemudian diikuti oleh upaya untuk membangun persepsi publik yang mengaitkan kejadian tersebut dengan Iran.
(ahm)