Siapa Houthi Yaman dan Mengapa Berperang Melawan Arab Saudi?

img-redaksi Muhaimin
Selasa, 15 September 2026 - 11:34 WIB
Siapa Houthi Yaman dan Mengapa Berperang Melawan Arab Saudi?
Pasukan Houthi Yaman saat parade militer. Kelompok ini kembali berperang melawan Arab Saudi. Foto/Middle East Monitor
A
A
A
JAKARTA - Houthi bukan sekadar kelompok bersenjata yang didukung Iran. Mereka lahir dari konflik internal Yaman, kemudian berubah menjadi kekuatan militer yang mampu menyerang Arab Saudi dan mengancam salah satu jalur perdagangan laut terpenting dunia.

Nama Houthi kembali menjadi perhatian dunia internasional setelah kelompok yang menguasai sebagian besar wilayah barat dan utara Yaman itu meningkatkan serangan terhadap Kerajaan Arab Saudi selama beberapa hari terakhir.

Serangan rudal dan drone Houthi menyasar sejumlah target di Arab Saudi, sementara pasukannya bergerak di sepanjang pesisir Laut Merah menuju kawasan strategis Bab el-Mandeb. Perkembangan ini menghidupkan kembali kekhawatiran bahwa perang Yaman dapat berubah menjadi ancaman terhadap perdagangan dan pasokan energi dunia, sebagaimana dikutip Reuters.

Namun, siapa sebenarnya Houthi? Mengapa mereka memerangi Arab Saudi? Dan mengapa kelompok dari salah satu negara termiskin di Timur Tengah ini mampu bertahan menghadapi kekuatan militer Arab Saudi selama bertahun-tahun?

Jawabannya tidak sesederhana "Houthi adalah proksi Iran".

Siapa Sebenarnya Kelompok Houthi?



Kelompok Houthi, yang nama resminya Ansar Allah, merupakan gerakan politik, keagamaan dan bersenjata yang berakar di Yaman utara.

Gerakan ini tumbuh dari komunitas Zaidi, salah satu cabang Syiah yang memiliki sejarah panjang di Yaman. Pada 1990-an, gerakan kebangkitan identitas Zaidi berkembang di tengah ketidakpuasan terhadap pemerintah Yaman dan pengaruh Arab Saudi serta Amerika Serikat (AS).

Salah satu tokoh penting dalam fase awal gerakan tersebut adalah Hussein Badreddin al-Houthi.

Pada 2004, Hussein memimpin pemberontakan terhadap pemerintah Presiden Ali Abdullah Saleh. Dia tewas pada tahun yang sama, tetapi gerakan yang kemudian dikenal sebagai Houthi justru terus berkembang.

Kepemimpinan kemudian beralih kepada saudaranya, Abdul-Malik al-Houthi, yang hingga kini menjadi pemimpin utama kelompok tersebut. Dewan Keamanan PBB mencatat Abdul-Malik al-Houthi mengambil alih kepemimpinan Houthi setelah kematian Hussein pada 2004.

Fakta ini penting karena menunjukkan bahwa Houthi sudah menjadi gerakan pemberontak Yaman jauh sebelum perang dengan Arab Saudi dimulai pada 2015.

Perubahan terbesar terjadi setelah pergolakan Arab Spring mengguncang Yaman pada 2011.

Presiden Ali Abdullah Saleh turun dari kekuasaan dan digantikan Abdrabbuh Mansur Hadi. Namun, pemerintahan baru gagal menciptakan stabilitas.

Ekonomi memburuk, konflik politik meningkat dan negara terpecah di antara berbagai kelompok bersenjata. Houthi memanfaatkan situasi tersebut.

Pada September 2014, pasukan Houthi dan sekutunya merebut Sana'a, ibu kota Yaman. Mereka kemudian memperluas pengaruh ke wilayah lain dan bergerak menuju selatan.

Pada awal 2015, Presiden Hadi melarikan diri dari Sana'a ke Aden setelah Houthi mengambil alih sejumlah institusi pemerintahan.

PBB mencatat pengambilalihan Sana'a oleh Houthi pada September 2014 sebagai salah satu titik balik utama yang kemudian membawa Yaman menuju perang terbuka.

Bagi Arab Saudi, perkembangan ini merupakan ancaman strategis. Sebab Yaman bukan negara yang jauh, melainkan berbatasan langsung dengan Arab Saudi.

Mengapa Arab Saudi Memerangi Houthi?



Arab Saudi melihat dua persoalan sekaligus. Pertama, Houthi muncul sebagai kekuatan bersenjata yang menguasai ibu kota negara tetangga Saudi.

Kedua, hubungan Houthi yang semakin erat dengan Iran, rival utama Saudi di kawasan.

Jika Houthi mampu menguasai sebagian besar Yaman, Riyadh menghadapi kemungkinan munculnya kekuatan yang bersekutu dengan Iran tepat di perbatasan selatannya.

Presiden Hadi kemudian meminta bantuan negara-negara Teluk dan Liga Arab.

Pada 26 Maret 2015, koalisi yang dipimpin Arab Saudi melancarkan operasi militer terhadap posisi Houthi di Yaman. PBB mengonfirmasi intervensi tersebut dilakukan setelah pemerintah Hadi meminta bantuan pada Arab Saudi dan negara-negara Arab lainnya.

Riyadh berharap intervensi militer dapat menghentikan kemajuan Houthi dan mengembalikan pemerintahan Hadi. Tetapi perang tidak berakhir cepat, dan justru berlangsung selama bertahun-tahun.

Mengapa Houthi Sulit Dikalahkan?



Salah satu jawabannya adalah faktor geografi. Yaman memiliki kawasan pegunungan yang sangat sulit dikuasai melalui serangan udara.

Arab Saudi memiliki pesawat tempur dan sistem persenjataan modern. Tetapi Houthi tidak perlu mengalahkan Arab Saudi dalam perang konvensional. Mereka hanya perlu bertahan. Inilah karakter perang asimetris.

Houthi menggunakan jaringan lokal, medan pegunungan, pasukan bergerak, rudal dan drone untuk membuat biaya perang bagi lawannya terus meningkat.

Kemampuan mereka juga berkembang selama perang. Dukungan Iran memainkan peran penting dalam proses tersebut.

Iran memang menjadi salah satu pendukung utama Houthi. Dukungan tersebut mencakup persenjataan, teknologi, komponen dan pengetahuan militer. Congressional Research Service menyebut Iran sebagai sumber penting teknologi yang digunakan dalam sejumlah sistem rudal dan drone Houthi.

Tetapi menyebut Houthi sebagai "boneka Iran" terlalu sederhana. Houthi mempunyai kepentingan politik sendiri.

Mereka memiliki basis sosial di Yaman, menguasai wilayah, memiliki struktur pemerintahan dan mempunyai agenda domestik.

Reuters juga mencatat bahwa hubungan Houthi dengan Iran sangat erat, tetapi kelompok tersebut tetap memiliki kepentingan dan kemampuan mengambil keputusan sendiri.

Hubungan keduanya lebih tepat dipahami sebagai kemitraan strategis. Iran mendapatkan sekutu yang dapat menekan Arab Saudi dan lawan-lawannya dari arah selatan. Sedangkan Houthi mendapatkan dukungan yang memperkuat kemampuan militernya. Kepentingan keduanya pun bertemu.

Dari Senjata Lokal Menjadi Rudal dan Drone



Perang dengan Arab Saudi mengubah Houthi secara drastis. Kelompok yang sebelumnya bertempur terutama dengan senjata darat berkembang menjadi kekuatan yang mampu meluncurkan rudal dan drone ke sasaran jauh.

Bandara, pangkalan militer dan fasilitas energi Arab Saudi menjadi sasaran. Perubahan ini sangat penting.

Riyadh memiliki keunggulan militer yang jauh lebih besar, tetapi sebuah drone atau rudal relatif murah dapat memaksa Saudi mengeluarkan biaya besar untuk pertahanan. Itulah inti strategi asimetris Houthi.

Mereka tidak harus menghancurkan Saudi. Mereka hanya perlu membuat Saudi terus mengeluarkan biaya untuk mempertahankan diri.

Pada 2022, gencatan senjata yang dimediasi PBB secara signifikan menurunkan intensitas perang. Namun, itu bukan perjanjian damai permanen.

Persoalan politik Yaman tetap belum terselesaikan. Houthi tetap menguasai Sana'a dan sebagian besar wilayah barat laut negara tersebut.

Karena itu, ketika situasi regional kembali memburuk pada 2026, konflik lama dengan cepat mendapatkan momentum baru.

Ancaman Houthi kemudian meluas jauh melampaui wilayah Saudi. Setelah perang Israel-Hamas pecah pada Oktober 2023, Houthi mulai menyerang kapal-kapal di Laut Merah dengan alasan mendukung Palestina.

Serangan tersebut mengubah kelompok Yaman itu menjadi persoalan internasional. Sebab Laut Merah terhubung dengan Terusan Suez, salah satu jalur perdagangan utama antara Asia dan Eropa.

Jika kapal tidak aman melewati Laut Merah, perusahaan pelayaran dapat mengalihkan rute melalui Tanjung Harapan di Afrika. Akibatnya perjalanan menjadi lebih panjang dan mahal.

Namun, ancaman yang lebih besar berada di selatan Laut Merah.

Bab el-Mandeb, Kartu Strategis Houthi



Bab el-Mandeb merupakan selat yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden. Posisinya menjadikannya salah satu chokepoint penting dalam perdagangan global.

Pada September 2026, Houthi semakin dekat dengan kawasan tersebut. Reuters melaporkan Houthi telah merebut kota pesisir Mocha dan bergerak menuju Kepulauan Hanish di Laut Merah. Pergerakan tersebut membawa mereka semakin dekat dengan Bab el-Mandeb.

Jika Houthi mampu mengganggu pelayaran di kawasan itu, dampaknya tidak hanya dirasakan Arab Saudi. Kapal-kapal dagang internasional juga terkena dampaknya.

Karena itu, konflik Yaman kembali berubah menjadi persoalan global.

Eskalasi terbaru terjadi ketika Timur Tengah sudah berada dalam kondisi sangat tegang.

Houthi kembali menyerang Saudi ketika konflik Iran-Amerika Serikat juga mengganggu jalur energi regional.

Pada 15 September 2026, Reuters melaporkan serangan Houthi terhadap sasaran di Saudi turut menyebabkan gangguan pada infrastruktur energi kerajaan tersebut. Serangan itu ikut mendorong kekhawatiran pasar minyak global.

Masalahnya bukan hanya jumlah rudal yang diluncurkan. Masalahnya adalah lokasi, di mana Houthi berada dekat Bab el-Mandeb.

Arab Saudi berada di dekat Laut Merah dan memiliki infrastruktur energi yang sangat penting. Sementara Selat Hormuz di sisi lain kawasan juga mengalami gangguan.

Jika dua chokepoint tersebut terganggu secara bersamaan, dampaknya dapat menjalar ke pasar minyak, pelayaran dan ekonomi dunia.

Di tengah perebutan pengaruh Arab Saudi dan Iran, korban terbesar tetap masyarakat Yaman.

PBB memperkirakan 22,3 juta orang membutuhkan bantuan kemanusiaan dan perlindungan pada 2026.

Menurut data PBB, sebanyak 18,3 juta orang menghadapi kerawanan pangan akut, sementara sekitar 5,2 juta merupakan pengungsi internal.

Angka tersebut menunjukkan bahwa meskipun intensitas perang sempat menurun setelah 2022, krisis Yaman tidak pernah benar-benar berakhir.

Konflik telah menghancurkan ekonomi, layanan publik dan infrastruktur dasar. Ironisnya, ketika dunia membicarakan rudal Houthi dan ancaman terhadap Saudi, jutaan warga Yaman masih berjuang mendapatkan makanan dan layanan kesehatan.

Jadi, Apakah Houthi adalah pasukan Iran? Jawabannya tidak sesederhana itu.

Houthi memang memiliki hubungan sangat dekat dengan Iran dan memperoleh dukungan militer serta teknologi dari Teheran. Namun, Houthi lahir dari konflik internal Yaman dan memiliki agenda politik sendiri.

Konflik tersebut dapat dilihat dalam tiga lapisan. Pertama, perang internal Yaman antara Houthi dan kelompok-kelompok yang menentangnya atau lazim disebut sebagai perang saudara Yaman.

Kedua, persaingan regional Saudi-Iran, yang menjadikan Yaman sebagai salah satu medan perebutan pengaruh. Ketiga, persaingan geopolitik global, terutama setelah Houthi mulai mengancam pelayaran di Laut Merah.

Karena itulah perang ini sangat sulit diselesaikan. Mengalahkan Houthi secara militer belum tentu menghapus akar persoalannya.

Biografi Singkat Houthi

•Nama resmi: Ansar Allah, berarti Pendukung/Penolong Allah

•Nama populer: Houthi

•Negara: Yaman

•Akar gerakan: Gerakan kebangkitan Zaydi di Yaman Utara

•Tahun muncul: Awal hingga pertengahan 1990-an

•Organisasi pendahulu: Believing Youth (al-Shabab al-Mu'min)

•Tokoh pendiri: Hussein Badreddin al-Houthi

•Pemimpin sekarang: Abdul-Malik al-Houthi

•Basis historis: Saada, Yaman Utara

•Pusat kekuasaan: Sana'a, Saada, Hodeidah, dan sekarang bertambah Mocha

•Basis sosial utama: Komunitas Zaydi di Yaman Utara, ditambah jaringan suku dan kelompok pendukung

•Jumlah pasukan: Tidak ada angka pasti, tapi estimasi mencapai ratusan ribu personel

•Pendukung eksternal utama: Iran

(mas)
See original source
link link link link
Berita Terkait
Iran Ungkap 4 Kapal Tanker Minyak Hancur akibat Ranjau Laut di Selat Hormuz
International
Kamis, 05 November 2026 - 19:06 WIB
Ketua Parlemen Iran: Pemilih AS Tolak Perang, Teheran Dukung Pesan Itu
International
Kamis, 05 November 2026 - 17:03 WIB
Siapa Pemegang Kekuasaan Sejati di Iran?
International
Kamis, 05 November 2026 - 04:40 WIB