Siapa Ratko Mladic? Komandan Militer Paling Kejam dan Memimpin Perang yang Menewaskan 100.000 Warga Muslim Bosnia

img-redaksi Andika Hendra Mustaqim
Selasa, 08 September 2026 - 09:15 WIB
Siapa Ratko Mladic? Komandan Militer Paling Kejam dan Memimpin Perang yang Menewaskan 100.000 Warga Muslim Bosnia
Ratko Mladic dimakamkan secara militer. Foto/X
A
A
A
LONDON - Jenazah Ratko Mladić, komandanSerbia-Bosnia yang meninggal saat menjalani hukuman seumur hidup akibat kejahatan perang, disemayamkan pada hari Senin. Langkah ini diambil Serbia meskipun ada peringatan dari Uni Eropa agar tidak mengizinkan penghormatan publik bagi pria yang dinyatakan bersalah atas kasus genosida pertama di benua Eropa sejak Perang Dunia II tersebut.

Ribuan pelayat tiba lebih awal di Gereja Ortodoks Serbia kecil bernama Gereja St. Lukas di Beograd untuk menghormati Mladić, sosok yang masih dianggap sebagai pahlawan oleh banyak orang Serbia. Topi perwira militer dan pedang miliknya diletakkan di atas peti mati, yang diapit oleh sejumlah pria berseragam militer lapangan.

Siapa Ratko Mladic? Komandan Militer Paling Kejam dan Memimpin Perang yang Menewaskan 100.000 Warga Muslim Bosnia

1. Dipuji Sebagai Rakyat Serbia

Media pro-pemerintah di Serbia melaporkan bahwa Mladić akan menerima penghormatan militer penuh, sementara pemimpin Gereja Ortodoks Serbia, Patriark Porfirije, akan memimpin upacara pemakaman.

Mladić "adalah sosok yang menyerahkan seluruh hidupnya demi rakyat Serbia," ujar Milan Dobric, seorang pelayat yang datang jauh-jauh dari Kosovo untuk menghadiri pemakaman tersebut. "Saya senang melihat orang-orang datang pagi ini untuk memberikan penghormatan khusus."

Mladić meninggal dunia pada usia 84 tahun, tanggal 27 Agustus di Den Haag, Belanda, saat menjalani hukuman seumur hidup atas genosida, kejahatan perang, dan kejahatan terhadap kemanusiaan yang dilakukan pasukannya selama perang Bosnia tahun 1992-1995.

2. Digelar Upacara Militer untuk Memakamkannya

Meskipun pengaturan pemakaman dilakukan secara resmi oleh keluarga Mladić, pemerintah Serbia mengirimkan pesawat pekan lalu untuk membawa jenazahnya ke Beograd, dan para tentara mengusung peti matinya yang dibalut bendera nasional. Sebuah upacara peringatan militer telah diadakan pada hari Sabtu di lokasi resmi milik tentara Serbia. Presiden populis Aleksandar Vucic—mantan nasionalis garis keras yang mendukung kebijakan ekspansionis Serbia selama masa perang—menyebut acara pemakaman tersebut sebagai "luapan emosi" yang "tidak ada kaitannya dengan apakah Vucic mengizinkan sesuatu atau tidak."

Serbia merupakan negara kandidat anggota Uni Eropa dan telah menghadapi kritik keras karena memberikan penghormatan kepada Mladić setelah kematiannya.

Marta Kos, komisaris perluasan keanggotaan blok tersebut, membatalkan rencana kunjungannya ke Serbia sebagai bentuk protes; ia berpendapat bahwa "pengagungan yang menyertai kematiannya tidak sejalan dengan nilai-nilai yang menjadi landasan jalan menuju Uni Eropa."

3. Dibeli Pemerintah Berkuasa

Serbia, yang mendukung pasukan Serbia-Bosnia selama perang, tetap bersikap defensif mengenai perannya di masa perang dan menuduh pihak Barat memiliki bias anti-Serbia.

Vucic mengatakan bahwa "kami (orang Serbia) telah dianiaya dan diganggu selama 30, 40 tahun... selalu dianggap bersalah apa pun yang terjadi." Ia menambahkan bahwa "masyarakat tidak mau lagi menerimanya begitu saja."

Vucic, yang tidak menghadiri pemakaman tersebut, sebelumnya menuduh Kos telah "berbohong." Presiden Serbia itu telah meningkatkan retorika anti-Barat menjelang pemilihan umum parlemen lebih awal yang diperkirakan akan berlangsung bulan depan.

4. Membunuh 100.000 Warga Bosnia

Sejumlah pejabat Eropa lainnya turut mengkritik Serbia, bersama dengan para pemimpin kawasan dan kerabat korban Mladić dari perang di Bosnia. Konflik tersebut menewaskan lebih dari 100.000 orang dan menyebabkan lebih dari 1 juta orang kehilangan tempat tinggal sebelum berakhir pada tahun 1995 melalui perjanjian damai yang ditengahi oleh Amerika Serikat.

Mladić dijatuhi hukuman pada tahun 2017 karena mendalangi pembantaian lebih dari 8.000 Muslim di Srebrenica pada tahun 1995, pengepungan ibu kota Bosnia, Sarajevo, yang berlangsung selama bertahun-tahun, serta kejahatan perang lainnya—termasuk pendirian kamp konsentrasi bagi warga sipil non-Serbia dan tentara musuh yang ditahan. Sejak kematian Mladić, para pengagumnya yang berhaluan nasionalis telah menggelar acara penghormatan, membuat serangkaian mural bergambar dirinya di Beograd, serta menyalakan suar untuk menghormatinya. Pada Minggu malam, para penggemar sepak bola membentangkan gambar raksasa Mladić dan meneriakkan namanya dalam sebuah pertandingan di Beograd.

Serbia menolak mengakui bahwa genosida telah terjadi di Srebrenica, dan justru menyebut pembantaian tersebut sebagai "kejahatan mengerikan". Tahun lalu, Serbia memakamkan seorang terpidana penjahat perang lainnya—mantan kepala staf angkatan darat Nebojsa Pavkovic—dengan penghormatan militer penuh di pemakaman khusus bagi tokoh-tokoh terkemuka.

Upaya negara Balkan tersebut untuk bergabung dengan Uni Eropa mengalami hambatan akibat kemunduran demokrasi dan penolakan Vucic untuk turut serta dalam sanksi internasional terhadap terhadap Rusia atas invasi ke Ukraina.

Srebrenica, yang ditetapkan PBB sebagai "zona aman" bagi warga Bosniak (Muslim Bosnia), akhirnya dikuasai oleh pasukan Serbia yang memaksa para pria dan anak laki-laki untuk menanggalkan pakaian, membunuh mereka, lalu mendorong jenazah mereka ke dalam kuburan massal menggunakan buldoser. Perang tersebut bermula setelah bubarnya bekas Yugoslavia, ketika etnis Serbia di Bosnia mengambil alih sebagian besar wilayah Bosnia untuk membentuk negara sendiri dan menyatukannya dengan Serbia.
(ahm)
See original source
link link link link
Berita Terkait
Zelensky Yakin Putin Tak Akan Berani Gunakan Bom Nuklir, Ini Alasannya
International
Jum'at, 23 Oktober 2026 - 13:20 WIB
Imbas Kerusuhan, Macron Larang Demo yang Dinilai Tidak Sah di Prancis
International
Jum'at, 23 Oktober 2026 - 09:50 WIB
Putin: Eropa Mengalami Skizofrenia Politik, Mereka Tak Bisa Kalahkan Rusia!
International
Jum'at, 23 Oktober 2026 - 08:30 WIB
Rusia Bombardir Kyiv Beberapa Jam usai Sepakat Berunding Damai dengan Ukraina
International
Jum'at, 23 Oktober 2026 - 05:46 WIB