Tafsir Surat Az-Zalzalah Ayat 1-3, Gambaran Dahsyat Saat Bumi Diguncangkan

img-redaksi Widaningsih
Selasa, 08 September 2026 - 05:15 WIB
Tafsir Surat Az-Zalzalah Ayat 1-3, Gambaran Dahsyat Saat Bumi Diguncangkan
Surat Az-Zalzalah ayat 1-3 menggambarkan dahsyatnya peristiwa yang akan terjadi menjelang atau pada Hari Kiamat, salah satunya gambaran ketika bumi yang diguncangkan dengan sangat kuat hingga mengeluarkan segala sesuatu yang tersimpan di dalamnya. Foto il
A
A
A
Surat Az-Zalzalah ayat 1-3 menggambarkan dahsyatnya peristiwa yang akan terjadi menjelang atau pada Hari Kiamat. Tiga ayat awal surat yang terdiri dari delapan ayat ini menggambarkan bumi yang diguncangkandengan sangat kuat hingga mengeluarkan segala sesuatu yang tersimpan di dalamnya.

Allah SWT berfirman:

اِذَا زُلْزِلَتِ الْاَرْضُ زِلْزَالَهَاۙ (١) وَاَخْرَجَتِ الْاَرْضُ اَثْقَالَهَاۙ (٢) وَقَالَ الْاِنْسَانُ مَا لَهَاۚ (٣)


Iżā zulzilatil-arḍu zilzālahā (1), wa akhrajatil-arḍu atsqālahā (2), wa qālal-insānu mā lahā (3).

Artinya: "Apabila bumi diguncangkan dengan guncangan yang dahsyat, bumi mengeluarkan isi perutnya, dan manusia bertanya, 'Apa yang terjadi dengannya (bumi)?'" (QS Az-Zalzalah: 1-3).

Sejumlah ulama tafsir memberikan penjelasan menarik mengenai makna tiga ayat tersebut, terutama terkait waktu terjadinya guncangan bumi dan apa yang akan dikeluarkan bumi pada saat itu.

Tafsir Syekh Nawawi Banten

Syekh Nawawi Banten (wafat 1316 H) menjelaskan terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama mengenai waktu terjadinya guncangan dahsyat yang disebutkan dalam Surat Az-Zalzalah.

Dalam At-Tafsîrul Munîr li Ma'âlimit Tanzîl, beliau menjelaskan bahwa apabila bumi diguncang dengan guncangan yang sangat kuat, berbagai benda yang berada di atasnya, seperti pepohonan, gunung dan bangunan, akan mengalami kehancuran.

Sementara itu, frasa wa akhrajatil-arḍu atsqālahā berarti bumi mengeluarkan beban atau muatannya. Menurut Syekh Nawawi, muatan tersebut dapat bermakna harta benda maupun orang-orang yang telah meninggal dunia.

Ada dua kemungkinan mengenai maksud guncangan tersebut.

Pertama, jika yang dimaksud adalah guncangan pertama, yakni ketika tiupan sangkakala pertama, bumi akan mengeluarkan harta benda yang tersimpan di dalamnya, termasuk berbagai perbendaharaan dan emas.

Dalam keadaan tersebut, bumi digambarkan dipenuhi emas, tetapi manusia tidak lagi memperdulikannya. Emas seolah-olah berkata kepada manusia bahwa demi mengejarnya, manusia pernah merusak agama dan kehidupannya.

Kedua, jika yang dimaksud adalah guncangan kedua, yakni setelah tiupan sangkakala kedua, bumi akan mengeluarkan orang-orang yang telah meninggal dunia.

Mereka dibangkitkan dalam keadaan hidup, sebagaimana seorang ibu melahirkan anaknya. Pendapat ini merupakan salah satu penafsiran ulama mengenai peristiwa kebangkitan manusia.

Penjelasan tersebut menunjukkan adanya perbedaan pendapat ulama. Sebagian menafsirkan guncangan pertama sebagai peristiwa keluarnya berbagai harta terpendam dari bumi, sedangkan guncangan kedua berkaitan dengan keluarnya manusia yang telah meninggal dan dibangkitkan kembali.

Tafsir Wahbah Az-Zuhaili

Pendapat serupa juga dijelaskan Syekh Wahbah Az-Zuhaili dalam At-Tafsirul Munir. Ia menyebut guncangan bumi yang sangat dahsyat dan keluarnya isi bumi sebagai salah satu tanda Kiamat.

Menurutnya, isi bumi yang dikeluarkan tersebut dapat berupa benda-benda yang terpendam maupun orang-orang yang telah meninggal dunia.

Syekh Wahbah menjelaskan, ketika tiupan sangkakala pertama terjadi, bumi akan mengalami guncangan dan mengeluarkan benda-benda terpendam yang ada di dalamnya.

Kemudian pada tiupan sangkakala kedua, bumi akan mengeluarkan orang-orang yang telah meninggal dalam keadaan hidup kembali. Kondisi tersebut diibaratkan seperti seorang ibu yang melahirkan seorang anak.

Dengan demikian, Surat Az-Zalzalah menggambarkan perubahan dahsyat yang terjadi pada bumi sekaligus proses keluarnya sesuatu yang selama ini tersembunyi di dalamnya.

Makna Kata "Jika" dalam Surat Az-Zalzalah

Sementara itu, Prof. M Quraish Shihab memberikan perhatian khusus terhadap penggunaan kata إذا (idza) pada awal Surat Az-Zalzalah.

Menurutnya, Al-Qur'an menggunakan kata idza untuk menggambarkan sesuatu yang pasti terjadi. Hal ini berbeda dengan kata in (إن) yang biasanya digunakan untuk sesuatu yang belum tentu atau jarang terjadi.

Adapun kata lau (لو) digunakan untuk menggambarkan suatu pengandaian, termasuk sesuatu yang mustahil terjadi.

Karena itu, penggunaan kata idza pada awal Surat Az-Zalzalah mengisyaratkan bahwa peristiwa guncangan dahsyat bumi tersebut merupakan sesuatu yang pasti akan terjadi.

Manusia Kebingungan Menyaksikan Dahsyatnya Guncangan Bumi

Pada ayat ketiga, Allah SWT berfirman:

وَقَالَ الْاِنْسَانُ مَا لَهَا


"Dan manusia bertanya, 'Apa yang terjadi dengannya (bumi)?'"

Syekh Mustafa Al-Maraghi menjelaskan bahwa manusia yang menyaksikan guncangan bumi yang luar biasa dahsyat akan mengalami kebingungan.

Guncangan tersebut begitu hebat hingga akal manusia kesulitan memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi. Orang-orang yang menyaksikannya pun akan terperanjat dan bertanya-tanya mengenai keadaan bumi.

Mereka seolah berkata, "Apa yang terjadi pada bumi? Peristiwa seperti ini belum pernah terjadi sebelumnya."

Gambaran tersebut menunjukkan betapa dahsyatnya perubahan yang terjadi pada bumi ketika memasuki fase akhir kehidupan dunia.

Surat Az-Zalzalah tidak hanya menggambarkan guncangan bumi, tetapi juga mengingatkan manusia mengenai kepastian datangnya Hari Kiamat dan kebangkitan. Wallahu a'lam.

(wid)
See original source
link link link link
Berita Terkait
Tata Cara Salat Istisqa, Amalan  agar Hujan Segera Turun
Kalam
Jum'at, 23 Oktober 2026 - 09:49 WIB
Kemarau Panjang, Ini Amalan yang Dianjurkan agar Hujan Turun
Kalam
Jum'at, 23 Oktober 2026 - 05:15 WIB