Perang Makin Sengit, Iran Serang Kapal Nirawak Angkatan Laut AS

img-redaksi Muhaimin
Senin, 07 September 2026 - 08:34 WIB
Perang Makin Sengit, Iran Serang Kapal Nirawak Angkatan Laut AS
Pasukan Iran saat patroli di Selat Hormuz. Militer Teheran klaim serang kapal nirawak Angkatan Laut AS yang berusaha memasuki Selat Hormuz. Foto/Press TV
A
A
A
TEHERAN - Iran mengumumkan bahwa pasukannya telah menyerang sebuah kapal nirawak Angkatan Laut Amerika Serikat (AS) yang berusaha memasuki Selat Hormuz pada hari Minggu. Serangan ini terjadi beberapa jam setelah militer Washington menyerang tiga kapal tanker minyak Teheran.

Babak terbaru bentrokan tersebut menandai semakin sengitnya pertempuran kedua pihak. Ini bermula dari serangkaian serangan AS pada pekan lalu, yang terjadi di tengah kebuntuan dalam perang yang telah berlangsung selama enam bulan.

Iran masih mempertahankan cengkeramannya atas Selat Hormuz yang strategis, sementara Washington terus menjalankan blokade tandingan terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Washington juga berupaya mencekik perekonomian Iran dengan menjatuhkan sanksi terhadap berbagai entitas yang memiliki hubungan keuangan dengan Republik Islam tersebut, sebagai upaya untuk memaksa Teheran menyerah.

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), sayap ideologis dari militer Iran, mengatakan pada Minggu bahwa pihaknya menyerang sebuah kapal permukaan nirawak militer Amerika yang berusaha memasuki Selat Hormuz.

Beberapa jam sebelumnya, IRGC mengatakan pasukan Angkatan Lautnya telah menargetkan tiga kapal tanker minyak yang menggunakan rute tidak resmi di Selat Hormuz. "Dan tiga kapal yang berafiliasi dengan Amerika pembunuh anak-anak di wilayah lainnya," kata IRGC, seperti dikutip AFP, Senin (7/9/2026).

IRGC memperingatkan kapal-kapal agar tidak mencoba melintasi selat tersebut melalui rute yang tidak disetujui.

Pada hari Sabtu, Komando Pusat AS (CENTCOM), yang mengawasi operasi militer Amerika di kawasan tersebut, mengatakan pihaknya menyerang kapal-kapal tanker yang terkait dengan Garda Revolusi Iran. CENTCOM mengeklaim salah satu pasukan militer paling kuat Iran itu gagal menyerang kapal perang Amerika.

"Setelah serangan Iran yang gagal, CENTCOM melumpuhkan secara permanen kapal pengangkut minyak mentah milik IRGC, M/T Downy di lepas pantai Pulau Kharg dan M/T Stark 1 di dekat Jask," kata CENTCOM.

"Pasukan Amerika juga menghancurkan sepenuhnya kapal pengangkut minyak mentah tanpa muatan M/T Kylo di Teluk Oman, dengan menghantam kapal tersebut di beberapa titik kritis hingga tidak dapat dioperasikan setelah awak kapal diperintahkan meninggalkan kapal," lanjut CENTCOM.

Video yang diunggah CENTCOM memperlihatkan bola-bola api besar dan kobaran api yang membubung setelah proyektil menghantam kapal-kapal tersebut.

Menurut CENTCOM, ketiga kapal tersebut merupakan bagian dari "jaringan bayangan bernilai miliaran dolar yang mendanai IRGC dan kelompok-kelompok proksinya di kawasan."

"Biaya Ekonomi yang Lebih Tinggi"



Sementara itu, Garda Revolusi mengeklaim kapal induk dan kapal perang Amerika yang mereka targetkan telah dipaksa mundur setelah mengalami kerusakan. Namun, CENTCOM mengatakan kedua kapal tersebut berhasil menghindari serangan Iran.

Komandan CENTCOM, Laksamana Brad Cooper, mengatakan setelah operasi tersebut: "Jika kalian menembaki dua kapal kami, kami akan mengenakan biaya ekonomi yang lebih tinggi—menyingkirkan tiga kapal milik kalian."

Kementerian Luar Negeri Iran mengecam Washington atas serangan terhadap kapal-kapal tanker minyak Teheran dan menyebutnya sebagai "tindakan ilegal dan agresif."

Koresponden televisi pemerintah Iran di Jask, Provinsi Hormozgan, bagian selatan Iran, mengatakan salah satu kapal tanker dalam kondisi kosong, sedangkan kapal kedua mengangkut minyak. Para awak kapal dibawa ke daratan menggunakan sekoci.

Koresponden televisi pemerintah lainnya yang berada di Pulau Kharg mengatakan serangan di lokasi tersebut tidak menimbulkan korban jiwa.

Komando Militer Pusat Khatam al-Anbiya Iran memperingatkan bahwa jika AS terus melancarkan serangan, maka pembalasan Teheran terhadap kapal perang Amerika akan lebih berat dari sebelumnya dan ada kemungkinan cakupannya diperluas.

Pemerintahan Presiden AS Donald Trump berupaya mengecilkan arti penting konflik yang telah berlangsung selama enam bulan tersebut. Konflik itu semakin tidak populer di dalam negeri Amerika menjelang pemilihan umum paruh waktu.

Wakil Presiden AS JD Vance bahkan mengatakan bahwa dia tidak akan menyebutnya sebagai perang.

Trump mengulangi pandangan tersebut pada Jumat, menyebut perang itu sebagai "small potatoes" bagi Washington, yang berarti sesuatu yang dianggap kecil atau tidak terlalu penting.

Kepala Keamanan Iran Mohsen Rezaei memperingatkan pekan ini bahwa Republik Islam telah menerapkan "strategi baru" menghadapi Washington yang, menurutnya, "akan menghancurkan fondasi kalian."

AS berupaya meningkatkan tekanan terhadap Teheran sebagai bagian dari usaha untuk merebut kendali atas Selat Hormuz, jalur strategis yang sebelumnya dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia.

Gencatan senjata rapuh antara kedua pihak runtuh pada Juli setelah terjadi serangkaian serangan terhadap kapal-kapal komersial di jalur perairan strategis tersebut.

Dalam beberapa pekan terakhir, Trump berulang kali mengancam akan mengklaim kedaulatan atas selat tersebut. Dia bahkan mengunggah peta yang menggambarkan Selat Hormuz sebagai "wilayah baru AS".

Vance bersikeras bahwa AS tidak akan membuka kembali perundingan dengan Iran sampai Teheran menghentikan serangan terhadap kapal-kapal komersial di Selat Hormuz.
(mas)
See original source
link link link link
Berita Terkait
Kapal Induk AS Sudah Ancang-ancang Menyerang Iran, Teheran Malah Menantang
International
Minggu, 25 Oktober 2026 - 06:29 WIB
Arab Saudi Tembak Jatuh 2 Rudal Houthi, Pecahannya Jatuh di Makkah dan Madinah
International
Minggu, 25 Oktober 2026 - 05:56 WIB
Pakar Ini Yakin Israel Hadapi Krisis Eksistensial Terbesar dalam Sejarahnya
International
Sabtu, 24 Oktober 2026 - 21:11 WIB
2 Tentara Israel Tewas, Netanyahu: Kejutan Besar Menanti Otoritas Palestina
International
Sabtu, 24 Oktober 2026 - 19:42 WIB