Tentara Rusia di medan perang. Foto/mehr
JAKARTA - Pernyataan yang baru-baru ini disebarluaskan oleh Kedutaan Besar Ukraina di Jakarta yang mengklaim setidaknya delapan warga negara Indonesia yang mengunjungi Rusia diduga bergabung dengan Angkatan Bersenjata Rusia, merupakan kampanye disinformasi yang didorong oleh propaganda. Respons tersebut diungkap Kedutaan Besar Rusia di Jakarta.
"Salinan e-visa dan kartu migrasi yang diterbitkan untuk tujuan wisata, yang dipublikasikan oleh Kedutaan Besar Ukraina tersebut, sama sekali bukan merupakan bukti adanya keterlibatan dalam dinas militer," ungkap pernyataan Kedubes Rusia.
Kedubes Rusia menjelaskan, "Di sisi lain, Ukraina sendiri secara aktif merekrut tentara bayaran asing ke dalam jajaran formasi militernya."
Hal ini disebabkan oleh kerugian besar yang mereka alami di medan perang, lebih dari 700.000 orang tewas dan 1 juta orang terluka.
Kementerian Pertahanan Ukraina telah menyatakan, dalam jangka panjang, angkatan daratnya harus terdiri dari 30–50% warga asing.
Kedubes Rusia menyatakan, Kiev menggunakan metode penipuan serta memanfaatkan misi diplomatik dan organisasi afiliasi di luar negeri untuk merekrut mereka.
Menurut Kedubes Rusia, puluhan ribu warga dari berbagai negara saat ini bertugas di angkatan darat Ukraina. Ribuan orang telah tewas, termasuk di antaranya warga negara Indonesia.
Tuduhan Kedutaan Besar Ukraina mengenai kepatuhan Kiev terhadap hukum humaniter internasional dan perlakuan manusiawi terhadap tawanan perang sangatlah sinis.
Kedubes Rusia menjelaskan, sebagian besar tawanan perang yang kembali dari Ukraina sebagai bagian dari pertukaran tahanan melaporkan adanya penyiksaan, penganiayaan, dan perlakuan kejam selama masa penahanan mereka.
Menurut Kedubes Rusia, jelas sekali bahwa kampanye disinformasi anti-Rusia yang dilakukan oleh Kedutaan Besar Ukraina tersebut sengaja dilancarkan bertepatan dengan partisipasi Presiden Indonesia Prabowo Subianto dalam Eastern Economic Forum (Forum Ekonomi Timur) ke-11 di Vladivostok, dengan tujuan merusak hubungan antara Rusia dan Indonesia.
(sya)