Iran meluncurkan drone ke pangkalan AS di Timur Tengah. Foto/mehr
TEHERAN - Militer Iran menyatakan telah menyerang sistem komunikasi satelit, gudang peralatan, dan hanggar jet tempur di Pangkalan Ahmad Al-Jaber di Kuwait. Mereka menyebutnya sebagai tahap ke-31 dari operasi bernama "Saiqa," atau "Kilat."
Dalam pernyataan yang disiarkan kantor berita semi-resmi Tasnim, bagian humas militer Iran menyebutkan rudal dan pesawat nirawak (drone) digunakan dalam serangan tersebut, yang menurut mereka merusak sistem komunikasi dan hanggar pesawat.
Mereka menyatakan pangkalan tersebut "memainkan peran penting" dalam mendukung pasukan AS di kawasan itu serta operasi udara dan pengintaian mereka.
Pernyataan itu menyebutkan pasukan Iran juga menyerang lokasi penempatan pasukan dan sistem radar di pangkalan udara Al Minhad di Uni Emirat Arab, yang digambarkan sebagai pusat penting bagi dukungan dan mobilitas udara pasukan asing.
Militer Iran menyebut serangan tersebut sebagai balasan atas jatuhnya korban di pihak angkatan bersenjata mereka sebelumnya.
Iran memperingatkan tanggapan mereka terhadap serangan lanjutan "akan keras dan menghancurkan" serta akan terus berlanjut "hingga kemenangan akhir."
Bulan Sabit Merah Iran telah meminta Mahkamah Pidana Internasional (ICC) untuk menyelidiki serangan rudal Amerika Serikat yang menghantam satu pesta pernikahan di kota Kuhestak, wilayah selatan, yang menewaskan empat orang dan melukai puluhan lainnya.
Dalam surat yang ditujukan kepada mahkamah tersebut pada hari Rabu, organisasi kemanusiaan itu menyatakan serangan tersebut menuntut "penyelidikan yang independen, tidak memihak, menyeluruh, dan efektif" mengingat "status sipil lokasi tersebut."
Serangan yang terjadi pada pukul 21.30 waktu setempat (18.00 GMT) hari Selasa itu menewaskan empat orang dan melukai 67 orang.
Kelompok tersebut memperingatkan jumlah korban tewas mungkin bertambah "mengingat kondisi kritis beberapa korban luka."
Korban tewas terdiri dari dua perempuan dan dua anak-anak, yang masing-masing berusia empat dan 16 tahun. Seorang pejabat Iran mengatakan sebagian besar korban luka juga merupakan perempuan dan anak-anak.
Bulan Sabit Merah menyatakan serangan tersebut dapat dikategorikan sebagai "kejahatan perang," seraya mencatat hukum internasional melarang serangan yang ditujukan kepada warga sipil atau objek sipil, ataupun peluncuran serangan yang diketahui dapat menyebabkan kerugian sipil yang tidak proporsional.
(sya)